Buka Bersama bagi yang tidak berpuasa

Buka Bersama bagi yang tidak berpuasa

Buka Bersama bagi yang tidak berpuasa

Diperbaharui 13 August 2012, 13:10 AEST

Buka bersama yang diselenggarakan oleh Australian Intercultural Society (AIS) di Melbourne diperuntukkan bagi mereka yang bukan muslim. Digelar setiap dua minggu sekali di hotel berbintang dengan tujuan untuk memperkenalkan Islam dan ibadah Ramadhan.

Dalam buka bersama (bukber) yang diselenggarakan oleh media Special Broadcasting Service (SBS) di Hotel Sofitel, Melbourne pekan lalu, mereka yang datang adalah pemimpin komunitas, pemimpin keagamaan, politisi, dan pejabat daerah di negara bagian Victoria.

Bagi mereka yang baru pertama kali menghadiri bukber wajah mereka tampak tegang. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, takut menyinggung saat menunggu adzan magrib. Namun pastur dan Rabi, atau pendeta Yahudi, justru tampak akrab dengan masyarakat muslim lainnya karena mungkin telah mengetahui pengalaman bukber.

Tidak seperti bukber di masjid atau di komunitas, yang biasanya harus antri untuk mendapatkan makanan atau duduk bersila bersama sambil menunggu azan, sore itu, tamu yang datang duduk di meja bersama delapan orang lainnya.

Layaknya makan di hotel berbintang, gelas dan piring tertata rapi di meja termasuk juga sendok, garpu dan pisau. Yang membedakan dengan jamuan makan malam yang sering saya hadiri adalah jelas tidak ada gelas wine.

Duduk di sebelah kiri saya  Damien Erward, kurator seni yang baru pertama-kali menghadiri bukber. Disebelah kanan saya adalah Direktur Komunikasi di kepolisian negara bagian Victoria, Merita Taban. Ia pun baru pertama menghadiri bukber. 

Seorang panitia maju ke podium menjelaskan mengenai bukber yang biasa disebut “Iftar” dan kemudian mengundang muadzin untuk mengumandangkan adzan. Saat adzan dikumandangkan diikuti disertai power point yang menjelaskan setiap kalimat adzan.

Merita tampak antusias sekali menyimak adzan.

“Kantor saya akan jadi tuan rumah Iftar minggu depan. Saya berharap Iftar ditempat kami benar-benar sesuai dengan Islam. Untung sudah banyak anggota polisi kami yang beragama Islam, jadi kami berkonsultasi dengan mereka bagaimana menjamu Iftar, “ujar Merita bersemangat.

Sementara Damien di sebelah saya, tampak kebingungan ketika saya sodorkan kurma. Saya lantas harus menjelaskan kenapa orang berbuka dengan kurma. Agak aneh bagi orang bule makan kurma sebelum makanan utama, biasanya makanan manis disantap sebagai hidangan penutup.

Peter Khalil, Direktur Strategi Komunikasi SBS dalam pidato pengantar Iftar menuturkan pengalaman masa kecilnya berbuka puasa dengan tetangganya yang Muslim. Khalil yang keturunan Mesir dan beragama Kristen Koptik menceritakan, saat itu usianya baru tiga tahun dan semangat sekali makan takjil.

Saking bergairahnya, ia hingga tersedak tidak bisa bernafas selama beberapa menit. Beruntung sang tuan rumah yang muslim turun tangan, mengail makanan di kerongkongannya hingga ia bisa bernafas kembali. Karena itu ia tidak bisa melupakan pengalaman Ramdhan dan merasa berhutang budi dengan tetangganya yang berhasil menyelamatkan nyawanya.

Acara Iftar ini juga dihadiri oleh Ted Balliue, premier negara bagian Victoria, pejabat tertinggi di negara bagian ini. Jelas ini adalah symbol bahwa Islam sudah diterima sebagai bagian dari keberagaman masyarakat Victoria. Pemerintah negara bagian Victoria menyediakan dana sebesar AU $20 juta atau sekitar 200 milyar untuk kegiatan yang mendorong kehidupan multikultural, termasuk buka bersama atau Iftar.

 

Ceramah Ramadan disampaikan Uskup Agung Gereja, simbol toleransi

 

Keesokan harinya, saya menghadiri juga Iftar di tempat yang sama dengan tuan rumah yang berbeda, yakni sebuah bank terkemuka di Australia. Adzan dikumandangkan oleh seorang polisi perwira menengah keturunan Lebanon. Terasa menyejukan sekali melihat seorang polisi menjadi bilal.

Huss Mustafa, manager bank keturunan Turki menyatakan betapa pentingnya bagi perusahaannya untuk memfasilitasi kegiatan iftar, sebab kegiatan Ramadahan menghidupkan keberagaman dan meningkatkan toleransi masyarakat negara bagian Victoria.

Yang menarik, ceramah Ramadhan justru diisi oleh Uskup Agung gereja Anglikan Dr. Philip Freier. Ia menyatakan betapa beruntungnya mendapat kesempatan Iftar karena pengalaman bukber telah membuka mata dan menambah pengalaman hidup bersama masyarakat muslim di Australia.

Nickolas Kotsiras, Menteri Multikultural negara bagian Victoria menyatakan hal senada.

“Semakin sering kita bergaul dengan masyarakat Muslim ataupun dengan yang berbeda keyakinan, maka akan hilang ketakutan akan ancaman terhadap mereka. Mereka semua sama seperti kita, ingin hidup bahagia dan berdampingan dengan damai, “ ujar Nicholas. 

Sebuah kalimat yang cukup dalam maknanya. Barangkali layak untuk dicamkan, betapa sering kita mencurigai orang berbeda keyakinan sebagai musuh.

Kontributor

Dian Islamiati Fatwa

Dian Islamiati Fatwa

Produser

Karir Dian di dunia jurnalistik dan penyiaran dimulai sejak tahun 1992.