Meningkatkan hubungan Australia dan Indonesia melalui jiwa muda, musik, dan perkedel.

Meningkatkan hubungan Australia dan Indonesia melalui jiwa muda, musik, dan perkedel.

Meningkatkan hubungan Australia dan Indonesia melalui jiwa muda, musik, dan perkedel.

Diperbaharui 7 November 2012, 13:10 AEST

Anggota Australia Indonesia Youth Association (AIYA) dan Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) berbagi pengalaman mengenai bagaimana mereka meningkatkan hubungan antara kedua negara tetangga ini.

“Kita engga perlu nungguin pemerintah untuk membangun relasi, tapi lebih dari personal touch dari kita juga,” kata Axel Fathurrahmansyah, ketua PPIA University of Melbourne, dalam wawancara Lily Yulianty Farid dengannya mengenai hubungan Australia dan Indonesia.

Menurutnya, pemuda Indonesia di Australia seperti dirinya bisa belajar banyak dengan mengunjungi dan mempelajari budaya-budaya lokal di Australia.  Dan ini dibuat lebih mudah karena dengan adanya warga Australia yang juga menunjukkan antusiasme tinggi untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia.

“Saya sendiri takjub dengan teman-teman lokal di Australia, karena banyak yang sangat antusias terhadap Indonesia, misalnya dengan kemampuan bahasa mereka.  Temen saya juga banyak yang sangat antusias belajar bahasa Indonesia. Ini membuat saya ingin mempelajari culture lokal, jadi ada sebuah pertukaran culture yang sangat berarti menurut saya.”

Salah satu warga Australia yang tertarik dengan budaya dan bahasa Indonesia adalah Tim Graham, direktur komunikasi Australia-Indonesia Youth Association (AIYA). Mahasiswa bidang bahasa Indonesia dan manajemen di Monash University ini memiliki cita-cita untuk bekerja membangun hubungan Indonesia dan Australia dalam bidang wiraswasta.

“[Pengalaman berkuliah] itu memang salah satu pengalaman yang sangat penting,” katanya, karena di situlah dia melihat adanya kesempatan untuk “mempengaruhi persepsi Australia tentang Indonesia, dan kesempatan meningkatkan dan memperbaiki hubungan,” katanya dalam wawancara yang sama.

AIYA, menurutnya, bertujuan untuk mengumpulkan pemuda-pemuda Australia dan Indonesia yang tertarik untuk membangun hubungan antar negara.

“Siapa saja yang tertarik hubungan Australia dengan Indonesia. Ada anggota yang sudah belajar bahasa Indonesia selama delapan tahun, ada yang belum belajar. Kami ingin mengumpulkan pemuda yang tertarik memabngun hubungan Indonesia dengan Australia dan masa depan hubungan kami.”

Tapi Tim masih melihat adanya halangan bagi dirinya dan pemuda Australia lainnya yang ingin mempelajari bahasa Indonesia, yaitu masih belum banyaknya kesempatan yang terbuka dengan kemampuan berbahasa Indonesia tersebut. Meskipun menerima saran-saran dari Buku Putih Abad Asia yang baru diterbitkan oleh pemerintah Australia, Tim ingin adanya solusi kreatif untuk mendorong anak-anak sekolah di Australia untuk terinspirasi untuk mempelajari bahasa-bahasa Asia.

“Memang ada berbagai kesulitan dan hambatan untuk lulusan bahasa Asing dan bahasa Asia itu, karena masih kurangnya jumlah pengusaha yang cukup menghargai keterampilan Asia ini. Kami pikir bahwa dengan usulan Buku Putih ini, mungkin masa depan untuk lulusan itu semakin baik. Kalau ada satu kritik untuk Buku Putih, itu adalah belum adanya solusi kreatif untuk mengatasi persoalan itu. Belum ada dorongan, misalnya dorongan pajak, atau peraturan, untuk membuat program bahasa yang lebih menarik untuk tamatan sekolah.”

Promosi budaya melalui tarian dan makanan Indonesia

Di hari yang sama dengan wawancara Tim dan Axel di studio Radio Australia, di Malvern Primary School, 18 pemuda dan pemudi Indonesia sedang memenuhi bagian mereka dalam memberi solusi kreatif promosi budaya Indonesia: melalui musik, tarian, dan perkedel.

Hervina Aljanika, salah satu partisipan dari Australia-Indonesia Youth Exchange Program yang kini sedang berada di Melbourne, sedang bersiap-siap untuk pertunjukan berbagai macam tari di sekolah tersebut ketika kami hubungi.  

“[Kami melakukan] satu ‘paket Indonesia’ dalam bentuk tarian, drama, kemudian juga medley lagu-lagu daerah, diikuti tarian-tarian daerah, kemudian ditutup dengan tarian Saman.”

Selama tiga minggu di Australia, para partisipan AIYEP, yang tahun ini mewakili 16 provinsi Indonesia, sudah tampil di hadapan murid-murid di tiga sekolah.

“[Respon murid-murid sekolah] sangat antusias, terutama saat kita sudah berganti pakaian menjadi pakaian tradisional, mereka sangat antusias dan ingin menyapa, dan ingin mengenakan baju itu sendiri. Dan saat kita tampil, mereka menunjukkan antusiasme sangat tinggi untuk mengikuti tarian kita.”

Selain tari-tarian dan musik, Hervina dan rekan-rekannya juga memperkenalkan makanan Indonesia, baik ke sekolah-sekolah, maupun ke keluarga angkat mereka di Melbourne.

“Kita membawa sampel makanan Indonesia –kita bawa perkedel, martabak bandung, dan peserta lainnya juga menawarkan kepada keluarga angkat mereka dengan makanan-makanan khas Indonesia; ada yang bikin soto ayam, goreng pisang.”

Dan melalui makanan, musik, tarian, maupun kerja keras dari organisasi-organisasi pemuda dari kedua negara seperti AIYA dan PPIA, mungkin akan muncul pemuda-pemuda seperti Tim Graham.

Tim, ketika ditanya harapannya mengenai hubungan Australia dan Indonesia, mengatakan dia ingin lebih banyak lagi adanya ketertarikan dari Australia mengenai Indonesia.

“Saya harap orang Australia lebih banyak yang tertarik dengan budaya Indonesia,” katanya.

Dan Axel Fathurrahmansyah, yang aktif mempelajari budaya Australia, memiliki tiga kata untuk harapannya tentang hubungan Australia dengan Indonesia.

“Semoga. Makin. Mantap,” katanya.