Pihak berwajib melacak pelaku pelecehan seks bawah umur di Bali

Pihak berwajib melacak pelaku pelecehan seks bawah umur di Bali

Pihak berwajib melacak pelaku pelecehan seks bawah umur di Bali

Terbit 7 November 2012, 9:35 AEDT

Sebuah organisasi amal di Bali mengatakan akan adanya penangkapan pria-pria warga negara asing dalam beberapa bulan ke depan atas tuduhan pelecehan seksual bawah umur di Indonesia .

Penangkapan seorang warga Belanda bulan lalu adalah penangkapan pertama pelaku pelecehan seks di Bali sejak tahun 2009.

Sebuah organisasi non pemerintah yang bekerja dalam bidang perlindungan anak-anak di Indonesia, Sacred Childhoods, mengatakan telah memberikan informasi kepada kepolisian Indonesia yang akan membantu penyelidikan mereka. 

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 70 ribu perempuan dan 30 ribu anak-anak diperdagangkan ke dalam industri seks di Indonesia, baik di dalam Indonesia sendiri atau diperdagangkan ke luar negeri.

Salah satu direktur Sacred Childhoods, Natalia Perry, mengatakan program Radio Australia Asia Pacific bahwa ada peningkatan jumlah kasus pelecehan seks bawah umur di Indonesia.

"Kita tahu bahwa ada dua masalah yang terpisah. Yang pertama adalah pariwisata seks," katanya.

"Kami tahu bahwa mereka menggunakan situs-situs internet untuk mengatur pelecehan seks bawah umur bahkan sebelum mereka ke Bali. Kami tahu bahwa beberapa dari mereka bahkan difasilitasi oleh beberapa kaum ekspatriat di Bali."

"Dan kami juga tahu bahwa ada masalah dengan beberapa dari mereka yang tinggal di Bali sebagai ekspatriat."

Polisi Federal Australia (AFP) dan badan keamanan Amerika FBI mempersatukan kekuatan dengan Kepolisian Republik Indonesia untuk menangani masalah pelecehan seks yang meningkat ini.

Natalia Perry mengatakan Sacred Childhood membantu pihak berwajib dalam pengumpulan informasi, dan dia mengaku terdorong setelah melihat kerja sama antara kepolisian di Australia dan Indonesia.

"AFP sangat proaktif di Bali. Mereka mampu melakukan banyak di lokasi, dan mereka memiliki informasi mengenai pelaku pelecehan seksual, termasuk yang berasal dari Australia yang menuju Bali, dan banyak yang terjadi di balik layar," katanya.

Dia juga mengatakan, walaupun adanya peningkatan pariwisata seks di Indonesia, berbicara mengenai pelecehan seksual bawah umur di Indonesia masih dianggap sangat tabu.

"Masih ada penyangkalan di antara warga Indonesia bahwa pelecehan seksual bawah umur benar-benar terjadi. Ada ketidaktahuan yang terjadi, dan itulah sebagian dari pekerjaan organisasi amal kami," katanya.

"Mengunjungi tempat-tempat berisiko tinggi untuk meningkatkan pengetahuan bagi penduduk desa sehingga mereka bisa mengetahui wisatawan seks dan cara menangani mereka, sehingga anak-anak juga diberdayakan untuk melakukan pelaporan."