Assad tolak hidup dalam pengasingan

Assad tolak hidup dalam pengasingan

Assad tolak hidup dalam pengasingan

Diperbaharui 9 November 2012, 9:31 AEDT

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, menolak seruan agar ia mencari cara yang aman untuk meninggalkan Suriah, dan berikrar akan "hidup dan mati" di Suriah.

Sebelumnya minggu ini, Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengemukakan ide mengusahakan cara yang aman bagi Presiden Assad untuk meninggalkan negara itu, dan mengatakan "itu dapat diatur".

Namun, berbicara dalam bahasa Inggris dalam wawancara dengan saluran televisi Rusia berbahasa Arab, Assad berikrar akan "hidup dan mati di Suriah".

"Saya bukan boneka. Saya tidak bisa diatur oleh Barat untuk pergi ke Barat atau ke negara lain," katanya.

"Saya orang Suriah, saya lahir di Suriah, saya harus hidup di Suriah dan mati di Suriah."

Ia juga memperingatkan agar jangan ada intervensi asing untuk menangani konflik di negaranya.

Sementara itu Palang Merah mengatakan kewalahan mengatasi situasi yang terus memburuk di Suriah.

Harga yang harus dibayar untuk invasi ini, kalau sampai terjadi, bakal luar biasa besarnya, karena kalau ada masalah di Suriah ... dan kami adalah benteng sekularisme dan stabilitas di kawasan ... itu akan menimbulkan dampak domino yang mempengaruhi dunia, dari Atlantik sampai ke Pasifik," katanya.

"Saya pikir Barat tidak akan melakukan intervensi, tapi kalau ya, tidak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi kemudian."

Banyak di kalangan oposisi Suriah, termasuk pemberontak yang sedang bertempur melawan pasukan pemerintah, telah mendesak negara-negara besar dunia untuk melakukan intervensi supaya mencegah pertumpahan darah yang terus memburuk.

Pertempuran terus berjalan dengan kekerasan semakin meningkat di Damaskus dalam bentrokan antara pemberontak dan tentara, dan Palang Merah mengatakan kewalahan menangani krisis kemanusian yang memburuk.