Anak-anak sekolah di Pakistan membela Malala Yousafzai di tengah ancaman Taliban

Anak-anak sekolah di Pakistan membela Malala Yousafzai di tengah ancaman Taliban

Anak-anak sekolah di Pakistan membela Malala Yousafzai di tengah ancaman Taliban

Diperbaharui 11 November 2012, 11:30 AEST

Selagi Pakistan merayakan "Hari Malala" untuk memberi dukungan global bagi remaja perempuan yang ditembak oleh Taliban karena mendukung hak asasi perempuan, kekuatiran atas keamanan di kota asalnya menjadikan teman-teman sekolahnya tidak bisa merayakan hari ini di hadapan umum. 

Penembak Taliban menembak Malala Yousafzai ketika anak perempuan tersebut sedang berada di bis sekolahnya satu bulan yang lalu di Mingora, Pakistan, dalam usaha pembunuhan berdarah dingin atas "kejahatan" Malala yang membela hak anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan di sekolah.

Malala, 15 tahun, berhasil selamat dari luka tembak tersebut, dan keberaniannya telah mendapatkan pengakuan dari jutaan masyarakat dunia, dan mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk merayakan hari Sabtu kemarin (10/11) sebagai "hari aksi global" untuk Malala.

Perdana menteri Pakistan, Raja Pervez Ashraf, menghormati keberanian Malala dan meminta warga negaranya untuk berdiri melawan pemikiran ekstrim yang menyebabkan penembakan.

"Tumpahnya simpati untuk Malala dan kebencian atas aksi penembakan yang pengecut ini menunjukkan kegigihan masyarakat Pakistan untuk tidak memperbolehkan beberapa kaum radikal untuk menetapkan agenda," katanya.

Tapi di Mingora sendiri, ancaman akan terjadinya serangan dari Taliban menyebabkan murid-murid di sekolah Malala, Sekolah Umum Khushal, hanya bisa menghargai Malala jauh dari mata publik.

"Kami melakukan doa khusus untuk Malala hari ini di upacara sekolah kami, dan menyalakan lilin," kata kepala sekolah tersebut, Mariam Khalid.

"Kami tidak melakukan perayaan secara terbuka karena sekolah dan murid-murid kami masih menghadapi ancaman keamanan."

Walaupun gagal membunuh Malala, Taliban telah mengatakan mereka akan menyerang perempuan yang berani melawan mereka dan rasa takut akan kekerasan ini sangat besar, dan Mariam Khalid mengatakan berbicara kepada media bisa membahayakan kehidupan murid-murid sekolah tersebut.

Nama Malala Yousafzai meningkat setelah menulis blog di BBC, di mana dia menulis tentang kehidupan di Lembah Swat di bawah Taliban, yang rezim terornya selama dua tahun seharusnya berakhir setelah adanya operasi militer pada tahun 2009.

Walaupun menghadapi bahaya, beberapa anak-anak di Mingora mengatakan akan berbicara dan berniat untuk mengikuti contoh keberanian Malala.

"Malala itu teman baik saya. Dia pemberani, terhormat, dan siapa pun yang menyerang dia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk," kata Asma Khan, 12 tahun, seorang murid di Saroosh Academy yang dekat dengan sekolah Malala. 

"Setelah dia diserang dan dilukai, kami sekarang memiliki keberanian lebih tinggi untuk belajar dan kami akan memenuhi misinya untuk menebarkan pendidikan di mana pun."

Teman sekolah Asma Kham, Gul Para, yang juga berusia 12 tahun, mengatakan: "Malala adalah putri bangsa ini dan kami bangga akan dirinya."

"Dia telah membela kami dan pendidikan kami, dan sekarang waktunya kami membela dirinya dan memenuhi misinya," kata anak perempuan tersebut.

Hampir seratus ribu orang telah menandatangani petisi untuk memberikan nominasi Nobel Perdamaian untuk Malala, dan pada hari Jumat, utusan khusus pendidikan PBB, Gordon Brown, memberikan petisi lainnya yang mendapatkan tanda tangan sejuta orang yang menyatakan dukungan mereka atas Malala kepada presiden Pakistan, Asif Ali Zardari.

Di Islamabad, pada Jumat lalu, sebuah program yang didukung PBB juga mengumumkan pembayaran uang tunai untuk keluarga-keluarga miskin yang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah di dalam usaha memasukkan tiga juta pemuda ke dalam sistem pendidikan. 

Reuters