Skandal Petraeus goyahkan elit intelijen AS

Skandal Petraeus goyahkan elit intelijen AS

Skandal Petraeus goyahkan elit intelijen AS

Terbit 12 November 2012, 10:24 AEST

CIA,  FBI dan Gedung Putih semuanya menghadapi pertanyaan menyusul pengunduran diri Direktur CIA, David Petraeus, yang terlibat affair di luar pernikahan.

Sementara para politisi senior membantah terdapat implikasi keamanan nasional, muncul pertanyaan tentang siapa yang diberitahu tentang investigasi atas Jendral Petraeus.

Direktur CIA itu mengundurkan diri pada saat CIA dijadwalkan akan memberikan kesaksian pada sidang dengar-pendapat mengenai serangan terhadap Konsulat Amerika di Benghazi, Libya, pada tanggal 11 Septmber.

Jendral bintang-empat itu, yang memimpin pasukan Amerika di Irak dan operasi militer di Afghanistan sebelum menjadi direktur CIA tahun lalu, belum berbicara secara terbuka tentang skandal seputar pengunduran dirinya.

Skandal itu terungkap karena FBI menerima keluhan dari seorang wanita yang tidak disebutkan namanya bahwa ia mendapat email yang mengganggu.

Investigasi mendapati bahwa email itu dikirim oleh Paula Broadwell, penulis biografi Jendral Petraeus.

FBI kemudian mendapati koresponden yang menunjukkan affair antara Broadwell dengan direktur CIA itu.

Di Washington kini muncul pertanyaan tentang implikasinya pada keamanan nasional dari affair itu.

FBI memberitahu direktur intelejen nasional tentang pengusutannya pada malam pemilihan presiden.

Keesokan harinya pejabat-pejabat pemerintah Obama diberitahu dan hari berikutnya Jendral Petraeus pergi ke Gedung Putih untuk menawarkan pengunduran dirinya pada Presiden.

Pada bulan Januari, Paula Broadwell tampil di The Daily Show dan berbicara wawancara yang dilakukannya di Afghanistan bersama Jendral Petraeus ketika ia menulis bukunya.

Broadwell belum berbicara di depan publik sejak skandal itu muncul.

Presiden Barack Obama mungkin akan dicecar mengenai skandal ini pada konferensi persnya yang pertama pasca pilpres beberapa hari lagi.

Jendral Petraeus sedianya akan tampil di depan komisi intelijen Kongres minggu ini untuk memberi kesaksian apakah CIA mengetahui dan apa yang disampaikannya kepada Gedung Putih sebelum, selama dan setelah serangan yang menewaskan dubes Amerika dan tiga diplomat Amerika lainnya di Benghazi, Libya, pada tanggal 11 September.