Daging sapi tetap langka, aksi mogok dilanjutkan

Daging sapi tetap langka, aksi mogok dilanjutkan

Daging sapi tetap langka, aksi mogok dilanjutkan

Terbit 19 November 2012, 14:01 AEDT

Aksi mogok pedagang daging sapi se-Jabodetabek diperkirakan akan berlanjut. Menyusul belum jelasnya solusi dari pihak pemerintah terkait tuntutan para pedagang daging sapi agar pemerintah menjamin ketersediaan pasokan ternak dan daging sapi bagi mereka.

“Rencananya kami mogok selama 3 hari saja, dari Sabtu (17/11) sampai Senin (19/11), tapi sejauh ini kami belum dengar apa-apa dari pemerintah. Jadi kemungkinan aksi akan berlanjut. Malah kami berencana mau mogok selama sebulan,” Ungkap Ketua Komite Daging Sapi Jakarta, Sarman Simanjorang.

Sarman Simanjorang mengatakan aksi mogok ini merupakan bentuk ungkapan kekesalan para pedagang daging sapi se-Jabodetabek menyusul kian seretnya pasokan ternak maupun daging sapi ke pedagang daging di Jakarta. Sejumlah daerah pemasok utama daging sapi ke Jakarta, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Lampung juga mulai membatasi kiriman mereka lantaran harus mengutamakan pemenuhan kebutuhan daging sapi di daerahnya. Para pedagang menyebut program swasembada sapi nasional yang digadang-gadang pemerintah sebagai biang kelangkaan daging sapi ini.

“Pemerintah kan selalu bilang stok ternak sapi lokal kita cukup, dan gak perlu impor, tapi itu kan cuma itung-itungan di atas kertas. Nyatanya sapi lokal itu nggak ada, itu kenapa daging sekarang langka. Pasar udah membuktikan pasokan sapi lokal itu tidak mencukupi," kata Sarman Simanjorang.

Kelangkaan pasokan, yang terjadi sejak awal tahun ini, menyebabkan harga daging sapi fluktuatif dan cenderung meningkat.  Oleh karena itu, para pedagang daging sapi mendesak agar pemerintah meninjau ulang kebijakan swasembada ternak sapi nasional tersebut.

“Kalau memang kita belum mampu ya jangan dipaksakan, kalau memang tidak cukup,  bilang gak cukup, tambah kuota impor daging! Kan gampang, jangan seperti sekarang ini, pedagang jadi korban, masyarakat juga susah makan daging,” tegasnya.

Pelaku usaha mengeluh

Sementara itu, akibat aksi mogok pedagang daging sapi se-Jabodetabek, para pedagang daging sapi di sejumlah pasar di ibukota menutup lapaknya. Kondisi ini membuat konsumen mengaku kesulitan.

Pelaku usaha kecil menengah yang menggunakan bahan dasar dari daging sapi, seperti tukang bakso, mengaku sangat dirugikan dari aksi ini.

Sukiman, pedagang bakso di Depok, mengaku kelangkaan daging sapi ini sangat mempengaruhi tingkat pendapatannya sehari-hari. Ia harus mencari daging ke pasar di Bogor yang berarti menambah ongkos produksi. Belum lagi harga daging yang meroket hingga Rp.100 ribu/kg.

Untuk menyiasati ongkos produksi, Sukiman mengaku terpaksa haarus menambahkan lebih banyak bahan campuran kedalam adonan bakso buatannya.

“Terpaksa...kalo gak gitu saya nggak dapat apa-apa. Saya juga mengurangi produksi bakso dilapaknya.”

Antisipasi amankan pasokan daging

Sementara itu, menyikapi kelangkaan daging akibat aksi mogok nasional ini, Kementerian Pertanian mengaku sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kelangkaan daging sapi di Jabodetabek.

Dalam keterangan tertulisnya kepada Radio Australia, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Kementerian Pertanian, Syukur Iswantoro, mengatakan dirinya sudah bertemu asosiasi peternak sapi lokal. Dalam pernyataan itu disepakati para peternak segera melepas ternak sapi mereka untuk pasokan daging di Jabodetabek.

Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki pasokan 5.000 sapi siap potong dari Nusa Tenggara Barat untuk dipasok ke Jabodetabek.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.