Ketegangan teritorial membayangi KTT Asia Timur

Ketegangan teritorial membayangi KTT Asia Timur

Ketegangan teritorial membayangi KTT Asia Timur

Diperbaharui 20 November 2012, 12:55 AEDT

Para pemimpin negara-negara ASEAN bertikai soal penanganan sengketa teritorial dengan Cina.

Pertikaian terbuka itu membayangi pembicaraan menjelang KTT Asia Timur, yang bertujuan memperkuat hubungan perdagangan dan politik.

Para pemimpin ASEAN semula berharap untuk menampilkan front bersatu mengenai sengketa Laut Cina Selatan, tapi ternyata tidak demikian.

Presiden Amerika, Barack Obama luas diperkirakan akan menyatakan keprihatinan tentang sengketa tersebut.

Sambil mengulangi lagi sikap Cina, Perdana Menteri Wen Jiabao menegaskan bahwa sengketa itu jangan di-internasional-kan dan dibahas pada event multilateral seperti KTT itu.

Cina, yang mengklaim kedaulatan atas seluruh Laut Cina Selatan, lebih suka berunding langsung dengan negara-negara ASEAN yang mengklaim wilayah.

Dalam pertemuan pada hari Senin, Obama dan para pemimpin ASEAN setuju untuk mendukung suatu tata tertib (code of conduct) regional untuk menangani sengketa wilayah.

Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei serta Taiwan mengklaim bagian-bagian Laut Cina Selatan, yang merupakan jalur pelayaran penting dunia dan diduga kaya sumber alam.

Di KTT Asia Timur, hari pertama didominasi oleh pertikaian mengenai issue ini di kalangan blok ASEAN.

Kamboja, ketua bergilir tahun ini dan sekutu dekat Cina, mengatakan, ke-10 negara tadinya sudah setuju untuk tidak meng-internasional-kan sengketa itu, dengan demikian memberi kemenangan diplomatik kepada Cina.

Tapi Filipina segera membantah, dengan Presiden Benigno Aquino menegur Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, dalam satu pertemuan pada hari Senin.

Ketidak-kompakan itu mengingatkan pada pertikaian pada pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Phnom Penh pada bulan Juli, yang berakhir tanpa suatu komunike bersama.

Persetujuan Perdagangan

Meskipun sempat terjadi ketegangan, para pemimpin diperkirakan akan mencapai kemajuan di bidang ekonomi.

Presiden Barack Obama dan para pemimpin ASEAN telah meluncurkan suatu prakarsa dengan tujuan memperluas hubungan perdagangan dan investasi antara Amerika Serikat dan ASEAN.

Aksi-aksi dalam prakarsa tersebut - U.S.-ASEAN Expanded Economic Engagement - bertujuan melancarkan jalan bagi negara-negara Asia untuk bergabung dengan Trans-Pacific Partnership, suatu persetujuan perdagangan yang sedang dirundingkan oleh Amerika Serikat dengan 10 negara Asia dan Barat.

Aksi bersama itu juga dapat membantu memperkokoh kehadiran Washington dalam berbagai aliansi perdagangan dan ekonomi regional.

Dengan membuka jalan ke Trans-Pacific Partnership (TPP), Amerika Serikat akan bergandengan dengan sebuah kelompok regional lainnya - the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) - yang terdiri dari ASEAN dan negara-negara lain di kawasan, termasuk Cina dan India.

Empat anggota ASEAN masuk dalam Trans-Pacific Partnership - Singapore, Brunei, Malaysia and Vietnam.

Sedangkan Regional Comprehensive Economic Partnership mencakup Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru dan ke-10 negara ASEAN - tapi tidak Amerika Serikat.