Obama puji 'langkah pertama' reformasi di Myanmar

Obama puji 'langkah pertama' reformasi di Myanmar

Obama puji 'langkah pertama' reformasi di Myanmar

Diperbaharui 20 November 2012, 10:35 AEST

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dalam kunjungan bersejarahnya di Myanmar mengatakan, ia gembira dengan kemajuan di negara itu, tapi menekankan, perjalanan itu baru mulai.

Dalam kunjunga selama enam-jam itu, Obama bertemu dengan Presiden Thein Sein dan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi, menjadi presiden Amerika pertama yang berkunjung ke negara itu.

Obama memuji kemajuan pemerintah tapi juga mendesak reformasi lebih jauh.

Ia mengatakan kepada Thein Sein, Myanmar telah melakukan perombakan signifikan dalam 18 bulan terakhir, tapi proses reformasi demokratik dan ekonomi di Myanmar baru saja mulai.

Puluhan-ribu orang, termasuk anak-anak ayng melambai-lambaikan bendera Amerika dan Myanmar, menyambut Obama dalam perjalanan ke Parlemen di Rangoon.

Kunjungan Obama ke Myanmar dimaksudkan untuk menyoroti apa yang oleh Gedung Putih disebut sebagai suatu prestasi kebijakan luar negeri yang besar - kesuksesan dalam mendorong rejim militer Myanmar untuk melakukan perubahan, yang terwujud dalam setahun terakhir ini.

Dalam pidato di Universitas Rangoon, Obama menyerukan diakhirinya kekerasan etnik di negara bagian Rakhine.

Ia mengatakan, tidak ada alasan bagi kekerasan atas orang-orang tak berdosa, atau langkah ke depan tanpa rekonsiliasi nasional.

"Rekonsiliasi nasional perlu waktu, tapi demi seluruh umat manusia dan demi masa depan negara ini, rekonsiliasi perlu demi mencegah kekerasan."