Pembicaraan "menegangkan" Obama-Hun Sen

Pembicaraan "menegangkan" Obama-Hun Sen

Pembicaraan "menegangkan" Obama-Hun Sen

Diperbaharui 20 November 2012, 9:19 AEDT

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengatakan kepada Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, dalam pertemuan yang "menegangkan" bahwa pelanggaran hak asasi manusia di Kamboja menjadi "hambatan" untuk meningkatkan hubungan bilateral, kata seorang pejabat Amerika.

Obama, yang baru melakukan kunjungan bersejarah di Myanmar, bertemu dengan Perdana Menteri Hun Sen di Phnom Penh menjelang KTT Asia Timur.

"Ia mulai dengan menyatakan bahwa kunjungannya ke Myanmar menunjukkan manfaat positif dari negara-negara yang melaksanakan reformasi politik dan menghormati hak asasi manusia," kata deputi penasehat keamanan nasional Amerika, Ben Rhodes.

Obama mengemukakan perlunya pemilu yang bebas dan adil di Kamboja dan pembebasan tahanan politik, Rhodes menambahkan.

Dikatakan, pertemuan itu "menegangkan".

"Obama mengatakan, masalah-masalah seperti ini merupakan hambatan bagi Amerika Serikat dan Kamboja dalam mengembangkan hubungan bilateral yang lebih dalam".

Di tahun-tahun belakangan ini, pemerintah Kamboja mendapat kritikan dari kelompok-kelompok HAM karena apa yang mereka katakan penindasan terhadap para pembangkang dan pemrotes dalam kasus-kasus yang seringkali berkaitan dengan sengketa tanah.

Puluhan warga desa Kamboja yang terancam penggusuran menggelar beberapa protes kecil menjelang kedatangan Obama dengan pesan "SOS", mendesak Presiden Amerika itu untuk membantu menekan pemerintah terkait masalah hak tanah.

Dalam pembicaraan itu, Rhodes mengatakan, Obama menyoroti kasus pengritik pemerintah yang vokal dan pemilik setasiun radio, Mam Sonando, 71 tahun, yang divonis 20 tahun penjara pada bulan Oktober karena katanya merencanakan makar.

Hun Sen, 60, telah berkuasa sejak 1985 dan berikrar akan memerintah sampai usia 90.

Pemimpin oposisi utama Kamboja kini hidup dalam pengasingan di luar negeri untuk menghindari hukuman penjara, yang menurut para pengritik bermotivasikan politik.