Klan yang terlibat pembunuhan massal di Fillipina mencalonkan diri dalam pemilu

Klan yang terlibat pembunuhan massal di Fillipina mencalonkan diri dalam pemilu

Klan yang terlibat pembunuhan massal di Fillipina mencalonkan diri dalam pemilu

Diperbaharui 24 November 2012, 10:26 AEDT

Puluhan orang terkait dengan klan Ampatuan yang terlibat dalam pembunuhan massal di Maguindanao dilaporkan akan mencalonkan diri dalam pemilu 2013 sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat.

Menurut pemberitaan media dan sejumlah kelompok hak asasi manusia klan Ampatuan yang kini para tokohnya sedang menjalani persidangan atas pembunuhan terhadap 58 orang, mereka kini mencalonkan diri dalam  pemilu 2013, sejumlah diantaranya bahkan menjadi calon ketua partai.

Hal tersebut menimbulkan kemarahan masyarakat di saat peringatan tiga tahun pembunuhan massal Maguindanao. Sejumlah kritik menyebutkan keluarga klan Ampatuan mempunyai pengaruh politik yang cukup kuat sehingga semakin menegaskan budaya impunity di Filipina.

Kepada kantor berita AFP Carlos Conde dari Human Rights Watch mengatakan," beberapa anggota klan bahkan menggunakan nama partai Presiden Benigno Aquino. Ini jelas menimbulkan kekhawatiran sebab hal itu memberikan pesan bahwa impuniti hidup dengan baik dan subur di negara ini."

Para pemimpin klan muslim Ampatuan bersekutu dengan pendahulu presiden Aquino yakni Gloria Arroyo. Mereka diduga terlibat dalam pembunuhan massal guna menghentikan langkah pesaing calon gubernur Maguindanao pada pemilu 2010.

Andal Ampatuan Snr, pemimpin klan Ampatuan yang kemudian menjadi gubernur propinsi Maguindanao dan empat putranya kini sedang menjalani persidangan atas dugaan merencanakan atau terlibat dalam pembunuhan massal tiga tahun yang lalu.

Secara keseluruhan terdapat 82 orang yang disidang, sebagian besar dari mereka diduga sebagai anggota keamanan klan Ampatuan.

Anggota keluarga klan Ampatuan menolak semua tuduhan tersebut.

Korban pembunuhan massal Maguindanao termasuk diantaranya 32 wartawan yang tengah melakukan perjalanan dalam sebuah konvoi untuk meliput calon oposisi gubernur yang akan mencoblos. Klan Ampatuan dan anggota keamanan bersenjata mereka dituduh menghentikan konvoi dan menembak setiap orang dalam konvoi tersebut hingga tewas.