Video games sama adiktifnya dengan judi: studi

Video games sama adiktifnya dengan judi: studi

Video games sama adiktifnya dengan judi: studi

Terbit 25 November 2012, 13:54 AEST

Seorang peneliti psikologi dari Canberra memperkuat apa yang sudah lama diduga orang, yakni bahwa video game bisa membuat orang kecanduan seperti halnya berjudi atau alkohol.

Dalam penelitian untuk studi doktoralnya di Australian National University, Olivia Metcalf mendapati orang-orang yang bemain game secara berlebihan tidak bisa berhenti memikirkan main game sewaktu mereka mencoba memusatkan perhatian pada tugas-tugas lain. 

"Bias perhatian" ini merupakan suatu gelaja yang dijumpai pada mereka yang kecanduan heroin, alkohol dan judi. 

"Pola itu tidak ditemukan pada orang-orang yang bermain video game tapi tidak mengalami gelaja-gejala yang negatif," kata Metcalf.

"Jadi ini bukanlah sesuatu yang terjadi akibat sering melakukan suatu perbuatan. Ini merypakan sejenis perubahan yang terjadi dalam sistem perhatian seseorang, dalam otak, bilamana mulai terjadi kecanduan.

"Jadi kami menemukan tanda kecanduan utama ini dalam sistem pemikiran orang-orang yang bermain game secara berlebihan."

Kata Metcalf, penelitiannya merupakan salah satu bukti ilmiah pertama bahwa main video game bisa menimbulkan kecanduan. 

"Kita tahu bahwa ada orang-orang yang main game secara berlebihan, tapi kita tidak jelas termasuk apa jenis masalah seperti itu," katanya. 

"Ada banyak spekulasi bahwa itu merupakan kecanduan, dan apa yang diperlukan adalah bukti ilmiah , dan inilah yang telah ditemukan oleh penelitian saya.

"Penelitian ini menemukan sejumlah indikator obyektif yang bagus bahwa para pemain game yang berlebihan menunjukkan tanda-tanda kecanduan, dan bahwa itu merupakan langkah pertama yang akan membawa kita untuk mengembangkan treatment dan terapi untuk membantu mereka."

Kata Metcalf, hanya sekelompok kecil pemain game yang menderita akibat negatif dari ketidak mampuan berhenti main game, seperti menderita gangguan tidur, diet, dalam hubungan dengan orang lain, bekerja dan mengerjakan tugas sekolah. 

Metcalf mengatakan, para peneliti tidak bermaksud membatasi atau melarang orang main game.

"Fokus kami cuma untuk membantu kelompok minoritas orang-orang yang mengalami masalah negatif, dan memastikan agar main video game tetap menyenangkan bagi mereka," katanya. 

"Kami ingin agar main video games tetap bisa menyenangkan dan dinikmati oleh semua orang."