Peranan dan tantangan media Indonesia di masa depan

Peranan dan tantangan media Indonesia di masa depan

Peranan dan tantangan media Indonesia di masa depan

Diperbaharui 27 November 2012, 12:47 AEST

Kini peranan media di Indonesia semakin diperkuat dengan perkembangan teknologi dan jejaring sosial. Di tengah-tengah perkembangan media ini, terjadi juga perubahan dalam dinamisme media, masyarakat, dan politik di Indonesia.

Perkembangan teknologi secara global telah mengubah wajah media-media konvensional seperti koran, majalah, radio, dan televisi, terutama setelah munculnya Internet.

Di Indonesia sendiri, awalnya kemunculan Internet ini tidak disangka oleh beberapa pengamat akan berdampak begitu besar pada banyak hal, mulai dari politik, ekonomi, sampai sosial.

"Kalau kita melihat sekarang di Indonesia, internet sudah menjadi salah satu aspek kehidupan sehari-hari. Pada awanya, barangkali kami semua belum menyadari betapa besar dampaknya," ujar Profesor David Hill dari Murdoch University, Australia.

Internet juga semakin mudah diakses dengan bermunculannya telepon genggam pintar atau smartphone dan gadget-gadget lainnya, seperti tablet.

Terlebih dengan semakin banyaknya penyedia pelayanan Internet di Indonesia yang menawarkan harga yang kompetitif dan mudah terjangkau, internet pun berhasil mengubah wajah media di Indonesia.

"Jadi fenomena sekarang adalah orang mencari berita dan informasi melalui internet daripada mengharapkannya melalui radio," ungkap Profesor David Hill.

Ia juga menambahkan, persaingan diantara perusahaan dan pemilik media pun diperkirakan akan semakin meningkat.

"Saya kira perusahaan-perusahaan media yang memusatkan perhatian pada internet akan menjadi pesaing yang cukup keras bagi media tradisional, seperti media cetak, TV dan radio."

Jejaring sosial semakin kuatkan peranannya

Indonesia adalah salah satu pengguna Facebook terbanyak di dunia. Menurut laporan majalah Forbes, meski kini telah dikalahkan oleh India, jumlah pengguna Facebook di Indonesia masih menduduki salah satu posisi teratas di dunia bersama dengan Brasil, India, Meksiko, Inggris Raya, dan negara asal Facebook, Amerika Serikat, yang masih memiliki pengguna Facebook  terbanyak.

Budiono Darsono, salah satu pendiri portal berita Detik.com, mengatakan dengan melihat jumlah pengguna jejaring sosial yang terus bertambah, maka tidak ada pilihan lain bagi media untuk memanfaatkannya sebagai bagian dari praktik jurnalisme.

"Jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, bukan sekedar memberikan masukan atau kritik, tetapi juga malah memberikan informasi," jelas Budiono.

"Di (media) mainstream tidak akan kelihatan bagaimana respon publik, karena ruang publiknya hanya lewat surat pembaca dan ruangnya terbatas. Berbeda dengan media online. Dan itu, menurut saya, salah satu kunci yang sangat penting dalam perkembangan media."

Tidak hanya membuat pembacanya menjadi lebih aktif berpartisipasi, menurut Budiono, jejaring sosial pun kini menjadi kontrol terhadap media itu sendiri.

"Masyarakat bisa dengan cepat melihat yang salah atau benar. Pengontrolnya itu se-Indonesia. Sehingga enggak bisa lagi pengelola media  mau seenaknya sendiri, bermain-main atau dikontrol oleh kepentingan pemodal atau politik tertentu."

Tantangan yang sama bagi media Indonesia dan Australia

Professor David Hill mengatakan maraknya kemunculan media-media baru di Indonesia sebenarnya bisa menjadi hal yang menguntungkan.

Tetapi, menurutnya, yang harus diwaspadai adalah soal kepemilikan media.

"Jangan sampai Indonesia meniru Australia, di mana hanya satu, dua orang saja atau sejumlah orang yang sangat kecil jumlahnya yang menguasai melalui kepemilikannya," jelasnya.

Selama ini di Australia, menurutnya, sudah ada praktik tidak tertulis di mana mereka yang mengontrol media massa tidak melibatkan diri secara langsung, walaupun media masih memberikan warna di dalam gambaran keseluruhan suasana politik Australia.

"Di Australia, pemilik perusahaan media tahu diri untuk tidak ikut terjun langsung dalam kancah politik...Meski demikian, tetap saja ada praktik-praktik dimana beberapa media mendukung beberapa partai politik tertentu. Terutama saat pemilihan umum, beberapa kandidat mendekati media-media."

Kini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kebebasan media dan berekspresi di Indonesia bisa dapat membantu proses demokrasi, terlepas dari kepentingan kekuasaan. Ataukah istilah "own the media, rules the world" memang terbukti? Siapa yang memenangkan media, maka ia akan menjadi penguasa?

Kontributor

Erwin Renaldi

Erwin Renaldi

Produser

Dikenal sebagai presenter, Erwin juga memproduksi sejumlah video untuk website dan TV di Indonesia. Ia bergabung ABC sejak pertengahan tahun 2011.