Eksploitasi siswa internasional di Australia

Eksploitasi siswa internasional di Australia

Eksploitasi siswa internasional di Australia

Diperbaharui 28 November 2012, 11:35 AEST

Sebuah laporan baru menyebutkan siswa internasional yang bekerja sebagai petugas kebersihan di beberapa pusat perbelanjaan merasa dieksploitasi. Tidak hanya itu, mereka juga sering kali mengalami perlakuan rasisme dari rekan sekerja.

Organisasi buruh Australia, United Voice Union, mewawancari 40 siswa internasional yang bekerja sebagai petugas kebersihan di beberapa pusat perbelanjaan di Westfield, Melbourne.

Mereka mengaku mendapatkan upah yang tidak layak.

Dengan beban kerja yang tinggi, mereka hanya diberi upah $17 per jam.

"Kita melihat adanya ketakutan besar dari mereka," ujar Jess Welch, sekretaris United Voice cabang negara bagian Victoria.

"Siswa internasional hanya diperbolehkan bekerja 20 jam per minggu, tetapi ada laporan bahwa mereka bekerja lebih dari itu karena disuruh oleh majikan mereka. Kalau tidak, tidak bisa bekerja."

"Kita menemukan bahwa mereka harus bekerja dengan jam extra, karena takut kehilangan pekerjaan."

"Kemudian majikan mereka tidak membayarnya untuk itu. Mereka juga terancam karena jika akan mengadu soal ini, majikan bisa saja melapor duluan ke pihak yang berwenang."

Karenannya, United Voice meminta para pemilik pusat perbelanjaan di Westfield yang menggunakan jasa petugas kebersihan dari para siswa internasional untuk menghentikan eksploitasi.

Sementara itu, seorang juru bicara salah satu perbelanjaan menjelaskan bahwa masalah ini ada pada kontraktor yang mempekerjakan para siswa internasional, bukan kesalahan pemilik pusat perbelanjaan.

Sementara itu perwakilan dari Komisi Disrkiminasi Ras di Australia, Helen Szoke mengatakan perlu adanya kejelasan soal ini.

"Pemilik pusat perbelanjaan sebaiknya mengaudit apa yang mereka lakukan, termasuk melakukan cek terhadap kontraktor penyedia jasa layanan kebersihan."

Szoke juga menambahkan bahwa meski hanya 40 siswa internasional yang diinterview, namun kasus ini perlu menjadi perhatian.

"Kita harus melanjutkan kerjasama dengan perwakilan siswa internasional untuk meyakinkan bahwa para siswa internasional mendapatkan hak yang sama dan bukannya diperlakukan diskriminasi. Juga hak untuk membela diri jika merasa dieksploitasi," tambahnya.

"Yang juga diperlukan adalah institusi-institusi pendidikan di Australia yang lebih baik, termasuk memberikan advokasi bagi siswa-siswa internasional."