NASA memantau badai debu dahsyat di planet Mars

NASA memantau badai debu dahsyat di planet Mars

NASA memantau badai debu dahsyat di planet Mars

Diperbaharui 27 November 2012, 11:25 AEDT

NASA saat  ini tengah memantu adanya badai debu yang cukup dahsyat di planet Mars. Badai tersebut telah menyebabkan munculnya perubahan di atmosfir.

Badan luar angkasa Amerika, NASA mengungkapkan untuk pertama-kalinya sejak tahun 1970-an mereka mempelajari sebuah fenomena baik dari orbit maupun dengan stasiun cuaca yang berada di permukaan planet Mars.

Kepala peneliti Mars  dari Laboratorium Tenaga Jet NASA, Rick Zurek mengatakan badai debu martian yang menyelimuti kawasan yang cukup luas di planet Mars.

"Badai debu tersebut telah menyelimuti wilayah yang cukup luas dengan kabut debutnya dan menjadi bagian dari planet dimana badai di sejumlah wilayah beberapa waktu yang lalu telah berub ah menjadi kabut debu global," ujarnya.

"Satu hal yang ingin kita pelajari adalah mengapa sejumlah badai debu Martian hingga sampai sebesar itu dan berhenti membesar, sementara badai lainnya terus membesar dan mengglobal. "

Badai debu regional meluas dan memberi berdampak pada sejumlah wilyah di planet merah itu pada tahun 2001 dan 2007.

Dalam pengamatan selama berpuluh-puluh tahun, para ahli NASA mengetahui ada pola musiman hingga menjadi badai debu Martian terbesar.

Musim badai debu terakhir terjadi mulai beberapa minggu lalu bersamaan dengan permulaan musim semi di bagian bumi selatan.

Pada tanggal 16 November, Orbit Pengintai Mars mendeteksi menghangatnya atmosfir sekitar 25 kilometer di atas badai.

Sejak itu, suhu atmosfir di kawasan naik sekitar 25 derajat.

NASA mengatakan fenomena tersebut akibat debu yang naik ke atas permukaan dan diserap oleh matahari.

Menghangatnya suhu juga terdeteksi di 'hot spot' di dekat wilayah garis lintang utara kutub akibat perubahan sirkulasi atmosfir.

Robot NASA Opportunity kemungkinan terkena dampak bila badai terus berlanjut secara meluas, sebab robot tersebut sangat tergantung dari energi matahari untuk suplay listrik.

"Lebih banyak debu di udara atau tidak banyak sinar matahari yang masuk di panel tenaga surya akan mempengaruhi operahi sehari-hari robot Opportunity," ujar NASA lebih jauh.