Australia akan abstain dalam pemungutan suara PBB mengenai Palestinia

Australia akan abstain dalam pemungutan suara PBB mengenai Palestinia

Australia akan abstain dalam pemungutan suara PBB mengenai Palestinia

Diperbaharui 28 November 2012, 12:19 AEST

Australia akan abstain dalam pemungutan suara di PBB minggu ini mengenai peningkatan status Otorita Palestina di PBB.

Perdana Menteri Julia Gillard pada mulanya ingin Australia memberikan suara menentang peningkatan status Otorita Palestina di PBB dalam pemungutan suara itu, suatu sikap yang sama dengan Israel dan Amerika.

Akan tetapi sebagian besar anggota kabinet federal tidak setuju, dan menghendaki Australia abstain dan dipandang sebagai pihak yang lebih independen.
 
Perdana Menteri Gillard berubah pikiran setelah lobbying oleh mantan Perdana Menteri Bob Hawke dan mantan Menlu Gareth Evans. 
 
Keduanya pendukung kuat Israel, tapi mereka mendukung status pengamat bagi Palestina.
 
Kata Evans, kalau Australia memberikan suara menentang, itu keputusan luar negeri paling buruk yang diambil Australia dalam 10 tahun terakhir.
 
Dikatakannya, keputusan itu tidak akan membantu perdamaian, tidak akan membantu Israel dan akan menempatkan Australia pada pihak yang keliru dalam sejarah.
 
Pemerintah Australia telah memutuskan untuk memberikan suara abstain.
 
Keputusan itu disambut gembira oleh para anggota Partai Buruh dalam parlemen, yang mengatakan itu berarti Australia menepati retorika yang digunakannya sewaktu berkampanye untuk memperoleh kursi dalam Dewan Keamanan PBB, karena mengambil sikap yang berbeda dengan Israel dan Amerika Serikat.
 
Sementara pihak oposisi mengatakan, Australia mestinya memberikan suara menentang.
 

"Koalisi (oposisi) berpendapat  Australia mestinya memberikan suara menentang upaya ini, karena kami pikir ini bukanlah jalan menuju perdamaian dan rekonsiliasi antara rakyat Israel dan Palestina," kata Julie Bishop, jurubicara oposisi bidang luar negeri.

"Yang kami kuatirkan adalah langkah untuk mendapatkan pengakuan lebih besar dari PBB ini merupakan upaya para pemimpin Palestina untuk memungkinkan mreka melakukan tindakan terhadap Israel lewat mahkamah internasional.

"Ini juga berisiko memberikan status internasional yang lebih tinggi ke-pada kelompok militan Hamas yang memerintah di Gaza. 

"Tindakan ini kemungkinan besar akan memperuncing dan memperpanjang konflik, bukannya menghasilkan penyelesaian bagi sengketa," demikian kata jurubicara oposisi bidang luar negeri itu.

Tapi Menlu Australia Bob Carr mengatakan, Perdana Menteri Gillard menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam persoalan ini, dan memberikan suara menentang di PBB bisa ditafsirkan luas bahwa Australia tidak mendukung kenegaraan Palestina dalam konteks apapun.
 
Katanya, Gillard membuat keputusan yang tepat dengan memutuskan Australia akan abstain, menunjukkan bahwa Perdana Menteri mau mendengarkan pendapat partai dan rakyat.
 
Diperkirakan kebanyakan negara akan mendukung resolusi tersebut, akan tetapi dengan memberikan suara abstain, Australia akan berbeda posisi dengan Israel dan Amerika Serikat, yang menentang pemberian status peninjau.
 
Senator Carr mengatakan, keputusan untuk abstain itu tidak akan merusak hubungan Australia dengan Amerika.
 

Katanya, Australia berhak mengambil kebijakan luar negeri yang berbeda dengan Amerika.