Potensi Indonesia menjadi perhatian media luar negeri

Potensi Indonesia menjadi perhatian media luar negeri

Potensi Indonesia menjadi perhatian media luar negeri

Diperbaharui 28 November 2012, 11:27 AEDT

Menurut Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah Tempo, Wahyu Muryadi, Indonesia memiliki potensi untuk dibicarakan di media-media mancanegara karena pertumbuhan ekonominya. Wahyu juga berbagi soal rahasia bagaimana majalah Tempo masih bisa bertahan di era digital. Ikuti wawancaranya bersama Radio Australia.

Radio Australia(RA): Melihat kondisi sekarang, apa yang menajdi tantangan untuk media Indonesia ke depannya?

Wahyu Muryadi: Saya melihat setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan media massa di Indonesia. Yang pertama dari aspek teknologinya, yang kedua dari aspek independensi. Dua hal ini harus punya fondasi yang kuat, yaitu dibangun atau disusun berdasarkan fondasi yang namanya freedom of the press. Kebebasan pers, yang secara legal, secara undang-undang, sudah diatur dengan kuat di sini, berikut infrastruktur adanya UU yang namnaya UU Pers, Nomor 40 Tahun 1999 dan juga yang terbaru adalah UU Keterbukaan Informasi Publik.

Tapi problemnya adalah dari segi teknologi, kita berhadapan dengan era baru, di mana memang media sekarang ini di era yang persaingannya makin ketat. Kami di Tempo tidak lagi relevan untuk kemudian selalu menonjolkan kekuatan di majalah saja, kekuatan di koran saja, atau di print media saja, tapi harus ada yang namanya di era industri pers ini, adalah semakin konvergen. Konvergensi itu ditunjukkan dengan dimulainya satu kesadaran untuk kemudian bersama-sama melakukan metamorfosis, melakukan perombakan struktural, organ-organ, secara organisasi, dan manajemen, yang kemudian kita sampai pada ujungnya adalah mengatur jadwal-jadwal rapat dan juga mindset ataupun culture kita juga berubah. Dengan dulu yang hanya semata-mata ada outlet yang namanya majalah Tempo, Koran Tempo, atau Tempo.com, Tempo TV, itu semuanya terintegrasi menjadi satu dalam sebuah konsep yang kita sering gembar-gemborkan sebagai multimedia, multikanal, multiplatform.

Apalagi eranya adalah era digital, yang namanya migrasi atau pergeseran untuk semua kegiatan ini yang ujung-ujungnya mengarah pada digitalisasi, semua news atau pemberitaan, sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda.

Kita ngomong tentang newsroom ini, belum lagi termasuk memanfattkan kekuatan dari blog, kemudian sampai ke Facebook, dan juga Twitter, social media.”

 

RA: Artinya media dituntut membuka akses kepada masyarakat atau penetrasi biar masyarakat mendekat?

Wahyu Muryadi: Ya tentu saja bisa dua-duanya. Yang ditonjolkan adalah selain soal kekuatan teknologi yang sudah mulai dihidupkan dengan televisi yang mulai live streaming, apalagi di Indonesia sekarang sudah mulai terkondisi yang namanya menghidupkan peraturan-peraturan menyangkut digitalisasi industri televisi. Yang paling ditonjolkan di situ adalah soal kedekatan, proksimitas, dengan peristiwa dan juga dengan publik yang ditandai dengan dibukanya interaktivitas kepada mereka seluas mungkin.

Kita kemudian kadang-kadang menentukan cover story atau pilihan berita lebih karena pilihan-pilhan dari yang lagi hot di media online. Jadi kami punya Tempo.com, ada beberapa cerita2 yang menjadi pilihan mereka yang sangat hit sangat tinggi, itu akan kita follow up semaksimal mungkin. Kita yang mau mengikuti keinginan dari publik untuk ingin tahu, dan itu memang hak mereka, tapi di sisi lain kita juga mencoba untuk menjadi satu agenda setter, menjadi trendsetter yang memberikan pilihan-pilihan berita yang sebenernya perlu dikunyah oleh publik

 

RA: Apa rahasia dari majalah Tempo bisa yang bisa bertahan di era digital? Apakah dari sisi konten?

Wahyu Muryadi: Ada yang namanya ramalan dari tokoh media dari Jerman, yang menyatakan print media akan mati pada tahun 2043. Nah itu mungkin di Barat. Cuma kalau di Indonesia, kita masih tahu dari masyarakat, yang namanya readership atau keterbacaan masyarakat di sini itu tingkatnya masih relatif rendah. Sehingga marketnya saya rasa masih luas sekali. Kita paling tinggi 700 ribuan pembaca dibanding media-media macam Kompas, Pos Kota. Koran Tempo bisa 200-250 ribu.

Tapi khusus untuk majalah, sebagai majalah berita mingguan yang sampai sekarang ini rasa-rasanya menjadi leading magazine, itu memang kita mengembangkan sebuah resep yang memang cocok dan sangat dibutuhkan oleh situasi politik di Indonesia sekarang, dan situasi ekonomi di Indonesia sekarang, yaitu menampilikan berita-berita yang sifatnya eksklusif. Eksklusivitas ini menjadi satu prasyarat mutlak yang selalu kami tonjolkan untuk kami pilihkan menjadi cover story.

Anda tahu, semua rubrik di majalah Tempo, umumnya ditulis dengan gaya investigatif. Tapi untuk cover story-nya, headline-nya, selalu ditulis dengan: satu, investigasi, berarti kita tahu yang namanya story behind the news, cerita di balik beritanya. Yang kedua, kita juga memberikan konteks kenapa ini terjadi, beserta menampilkan semua riset yang kuat, supaya pembaca atau masyarakat memahami permasalahan secara menyeluruh. Yang ketiga, kita bisa menampilkan melalui angle-angle baru.

 

RA: Beralih soal berita luar negeri. Seberapa besar sih Tempo memberikan porsi pemberitaan luar negeri, terutama hubungan Indonesia-Australia?

Wahyu Muryadi: Kita tentu saja tetap memberi porsi yang penting untuk isu-isu internasional. Anda tahu, kami ini sampai sekarang masih mengirimkan wartawan kami untuk meliput di Suriah. Lalu kemudian yang tidak kalah penting adalah tentu isu-isu yang proksimitasnya adalah kedekatan secara geografis maupun secara emosional. Di luar soal proksimitas itu, sepanjang ada magnitude yang besar, ada drama, skandal-skandal yang selama ini agak tabu menjadi perghatian kami.

Lalu, dalam artian kawasan, yang kami perhatikan adalah ASEAN. ASEAN ini penting, khususnya yang peling penting bagi kami adalah Malaysia. Dan last but not least, ya tentu saja Australia. Kita ada beberapa titik persoalan dengan Australia. Perhatian soal migran, soal Timor Leste, yang dulu itu diperjanjikan dengan Timor Leste, dan apa kaitannya,  perkembangan terakhirnya dengan Indonesia. Lalu, hubungan dengan daging impor. Jadi Australia tetap menjadi tetangga yang menarik untuk Indonesia.

 

RA: Khusus untuk berita atau informasi seputar hubungan Indonesia dengan Australia, perspektif apa yang digunakan oleh Tempo?

Wahyu Muryadi: Kalau kami umumnya melihat tentu saja tidak bisa lepas dari ukuran-ukuran adat.  Kita punya 13 kiriteria layak berita. [Salah satunya] Eksklusif. Eksklusif itu menjadi penting, karena biasanya para pimpinan Australia, petinggi Australia banyak memberikan kesempatan kepada Tempo untuk memberikan special interview. Itu menjadi penting, karena kita ingin tahu bagaimana mereka memandang Indonesia dan apa kepentingannya terhadap Indonesia. Terhadap Papua lebih-lebih.

Dan yang lebih penting, kita ingin tahu bagaimana media-media di Australia juga. Media di Australia itu, saya dengar juga, selain lambat bermetamorfosis, yang juga ada trend di mana para pemimpin redaksinya di beberapa media hengkang karena sudah mulai dikooptasi oleh para pemilik modal dari industri tambang, kan? Nah, itu kan menarik, cocok dengan Indonesia.

 

RA: Perdana Australia menyarankan kepada media-media Australia untuk lebih memperhatikan isu di Asia, termasuk di Indonesia. Apa tanggapan Mas Wahyu?

Wahyu: Tidak hanya Australia, Amerika Serikat, Cina India, semua akan menganggap Indonesia menjadi macan yang sedang tidur, raksasa yang sedang tidur yang suatu saat akan siuman dan terjaga dan menjadi besar. Kita tahu, sumber daya alam kita luar biasa. Sumber daya alam yang dihidupkan dan juga tambang luar biasa. Rasanya kita bisa klaim apa yang kemudian dipakai oleh industri Jepang untuk energinya, kemudian di India, di Cina, itu kebanyakan diimpor dari Indonesia dalam bentuk raw material, baik itu gas, batubara. Semua menggantungkan dari enrgi yang diimpor, terutama dari Indonesia.

Dalam perspektif demokrasi, kita pesatnya minta ampun. Tentu saja kendala di sana-sini menyangkut bagaimana negara itu kadang-kadang tidak berdaya atau bertekuk lutut dengan model-model kekuasaan atau tindakan-tindakan anarkis atas nama agama yang tidak bisa dikontrol dengan baik oleh aparat keamanan.

Tapi yang namanya demokrasi, dari semua pemilihan-pemilihan di daerah yang secara langsung sampai ke pemilihan presiden yang berlangsung secara damai, patut ditiru.