Aksi protes yang pertama dalam 26 tahun di Singapura berakhir

Aksi protes yang pertama dalam 26 tahun di Singapura berakhir

Aksi protes yang pertama dalam 26 tahun di Singapura berakhir

Terbit 29 November 2012, 8:40 AEDT

Aksi protes yang pertama-kali dilakukan di Singapura akhirnya berakhir setelah demo dua hari menuntut upah yang layak kepada pemerintah Singapura.

Mogok bermula hari Senin lalu ketika pengemudi bus warga China menolak untuk dijemput dari asramanya menuju depo bus untuk menjalankan tugasnya. Sebagian dari mereka tidak mengetahui bahwa mogok kerja adalah ilegal menurut hukum di Singapura.

Operator bus SMRT milik negara menyatakan bahwa kini operasi berjalan normal sesuai dengan jadwal.

Dikatakan 20 pengemudi bus ' tengah membantu polisi" yang melakukan penyelidikan atas aksi protes terhadap pemerintah. Aksi tersebut dianggap ilegal oleh Kementrian tenaga kerja yang memperingatkan bahwa siapapun akan dinyatakan bersalah bila ikut protes dan akan dikenai denda serta hukuman hingga satu tahun kurungan penjara.

Para pengemudi yang umumnya berasal dari daratan China dan bukan anggota serikat buruh serta tidak menyatakan deklarasi mogok, mengatakan kepada wartawan hari Senin kemarin bahwa mereka menuntut upaya yang layak sebab sopir bus dari Malaysia yang bekerja di Singapura  mendapatkan upah yang lebih tinggi dengan pekerjaan yang sama.

Namun demikian operator bus SMRT  menyatakan mereka membayar 'upah yang cukup kompetitif' serta menyediakan perumahan dan sejumlah fasilitas termasuk angkutan penjemputan kepada pengemudi dari China. Mereka berjanji akan mengatasi persoalan yang dikeluhkan para pengemudi bus dari China termasuk diantaranya  keluhan mengenai tempat tidur di asrama mereka.

SMRT terpaksa mempekerjakan warga asing karena keterbatasan tenaga kerja di Singapura. Dalam aksi protes tersebut 171 pengemudi bus mogok kerja pada hari Senin dan 88 orang tidak bekerja pada hari Selasa. T

Sementara itu sopir bus dari Malaysia yang bekerja di Singapura melakukan perjalanan pulang pergi menggunakan lintasan  yang menghubungkan kedua negara. 

Mogok kerja dan aksi protes buruh sangat jarang terjadi di Singapura, dimana serikat buruh justru bekerjasama dengan pemerintah dan pengusaha, sehingga membuat Singapura menjadi tempat yang menarik  bagi investasi asing

Menurut kementrian tenaga kerja mogok kerja terakhir di Singapura terjadi pada tahun 1986.

Mogok kerja dianggapk ilegal bagi pegawai yang bekerja ' melayani fasilitas penting ' seperti transportasi. Buruh diharuskan memberi tahun maksud dan tujuan sebelum mogok dilakukan termasuk mengikuti aturanlainnya.

Hukuman bagi mereka yang melakukan mogok kerja secara ilegal akan dikenai denda sekitar Rp15 juta rupiah atau hukum kurungan penjara maksimum satu tahun atau mendapat hukuman keduanya. .

Polisi hingga kini belum memberikan komentar atas penyelidikan yang dilakukan.

54 persen saham SMRT dimiliki oleh negara melalui Temasek Holdings.