Bu Maja Menutur Sejarah: derap langkah Belanda, senyuman Jepang, dan ketulusan hati sang suami

Bu Maja Menutur Sejarah: derap langkah Belanda, senyuman Jepang, dan ketulusan hati sang suami

Bu Maja Menutur Sejarah: derap langkah Belanda, senyuman Jepang, dan ketulusan hati sang suami

Diperbaharui 12 December 2012, 12:03 AEDT

Sosoknya yang sederhana, dengan kerutan menggelayut dan rambut memutih, tak ubahnya para lansia pada umumnya. Namun, ada yang berbeda dari sosok Bu Maja, seorang nenek usia 89 tahun yang hanya memiliki satu cucu ini: semangat dan ingatan yang menyala terang, yang mungkin membuat orang yang lebih muda darinya merasa rawan hati.

Wanita yang lahir di Serang pada tahun 1923 ini masih memiliki ingatan jernih tentang segala hal. Mulai dari masa kecilnya di Serang, perantauannya ke Jakarta, pernikahannya dengan suami terkasih, kehilangan anak-anak yang dicintainya, hingga sejarah politik di Indonesia.  

Ibunya meninggal saat ia berusia tujuh tahun. Semenjak itu, anak kedua dari tiga bersaudara ini dirawat oleh neneknya. Masa kecilnya di Serang dihiasi dengan derap langkah para serdadu Belanda yang merebut lahan sawah keluarganya. Ketika itu, Belanda memang menduduki daerah Serang dan menguasai lahan penduduk setempat. Padahal keluarga Bu Maja bergantung pada isi lumbung.

Kemudian, Jepang datang. Berbeda dengan orang Belanda yang dianggapnya cuek, orang Jepang tampak lebih ramah. “Orang Jepang baik tapi menggigit,” ungkap Bu Maja. Ia masih ingat betul ketika harus mengucapkan “Ohayoo Gozaimasu” setiap kali bertemu muka dengan orang Jepang.

Ketika berusia 22 tahun, tepatnya tahun 1945, tahun diproklamirkannya kemerdekaan oleh Soekarno dan Bung Hatta, Bu Maja dan saudaranya merantau ke Jakarta, ke daerah Pekapuran, Jembatan Lima. Di sanalah ia mengadu nasib menjadi buruh pabrik. Sementara di luar sana, segenap bangsa Indonesia masih merayakan gegap gempita kemerdekaan dari pendudukan beratus-ratus tahun. Tiga tahun kemudian, Bu Maja menikah dengan pria sekampungnya. Sayangnya, suami yang sangat baik hati itu harus lebih dulu meninggalkannya, ketika usia Bu Maja 55 tahun. Ia memiliki tujuh orang anak. Malangnya, ia pun harus rela kehilangan lima anaknya. Dengan hanya ditemani sepasang anaknya dan seorang cucu, Bu Maja mempertahankan keluarga kecilnya hingga kini.

Lantas, kenangan apa yang tak terlupakan dari suaminya? “Suami saya adalah pria yang berhati lembut dan polos. Dia tak mengenal istilah tamak.” Begitulah gambaran Bu Maja.

Ketika menetap di Jembatan Lima, suaminya membuka bengkel sepeda. Mereka merasa cukup dengan penghasilan yang didapatkan. Ketika semua orang sibuk “mematok” tanah kosong untuk dijadikan rumah ataupun lahan tanam, suami Bu Maja sudah puas dengan rumah bilik yang mereka tempati.  Akan tetapi, tetangga mereka yang disapa Abah Uun memberikan sebidang tanah untuk mereka. “Jika ada yang bertanya, bilang saja itu tanah kalian,” begitu pesan Abah Uun.

Dan sejarah kelam Indonesia pun kembali terjadi. Pada tahun 1965 situasi Jakarta tegang dengan kehebohan penggeledahan dan penangkapan terhadap para anggota PKI (yang memang anggota ataupun dituduh anggota). Rumah Bu Maja digeledah. Surat keanggotaan PKI diburu. Keluarga Bu Maja bersih. Namun, Abah Uun tidak seberuntung itu. Ia bukan anggota PKI, melainkan SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Namun, ketika itu SOBSI memang dikaitkan erat dengan PKI dan turut diberangus. Di depan orang banyak—dewasa dan anak, Abah Uun dipukuli oleh tentara. Sepatu lars menghajar rahangnya. “Tolong, jangan pukuli dia di depan umum. Langsung bawa saja,” mohon suami Bu Maja ketika itu. “Ini sebagai contoh untuk semua orang,” sahut tentara itu.

Trauma dengan kejadian itu, tak lama Bu Maja dan keluarga pun pindah. Suami Bu Maja menjual rumahnya serta tanah pemberian Abah Uun senilah tujuh puluh lima ribu rupiah. Tujuh tahun kemudian, Abah Uun dibebaskan dari penjara. Suami Bu Maja yang mendengar kabar itu lantas menemui tetangga lamanya itu. Ia memberikan empat puluh ribu rupiah sebagai pengganti tanah yang diberikan Abah Uun. Itulah ketulusan hati yang selalu dikenang Bu Maja dari suaminya .

“Manusia tidak boleh tamak,” pesan Bu Maja berulang kali. Ia teringat keteguhan suaminya untuk tidak terlibat dengan partai apa pun yang mengiming-imingi ini-itu. Kiranya itulah pula yang terlihat dari kehidupan sederhana Bu Maja. Walaupun berpuluh tahun menjanda, ia menjalani hidup dengan besar hati. Ia ikhlas harus ditinggalkan lebih dulu oleh suami dan lima anaknya. Ia mengajar anak-anak mengaji dengan bayaran seikhlasnya.  Jika seseorang bersikap tamak, ia akan melupakan segalanya. Begitu pula jika negara Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang tamak. Negara tidak akan pernah maju—digerogoti dari dalam.

Di usianya yang akan menginjak sembilan puluh, Bu Maja akan terus mengajar mengaji. Sepatutnya itulah yang membuat pikiran Bu Maja tetap aktif. Daya ingatnya memukau. Suaranya pun lantang. Tawanya sesekali memecah dari sela-sela giginya yang belum tanggal total.

Dan senyuman tulus itu…rasa-rasanya masih akan kita saksikan di tahun-tahun mendatang.