Jenis baru virus flu burung ditemukan di Indonesia

Jenis baru virus flu burung ditemukan di Indonesia

Jenis baru virus flu burung ditemukan di Indonesia

Diperbaharui 10 December 2012, 22:06 AEDT

Ratusan ribu unggas itik di sejumlah daerah mati akibat jenis virus flu burung yang baru ditemukan di Indonesia.

Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Pujiatmoko kepada Radio Australia menjelaskan Kementerian sudah mendeteksi  keberadaan jenis baru turunan dari flu burung sejak September lalu.

Kepastian jenis baru virus flu burung yang di dunia dikenal sebagai Avian Influenza tersebut setelah melalui serangkaian test di laboratorium yang melibatkan para peneliti.

Kementerian Pertanian menyebutkan virus flu burung yang baru ditemukan itu varian dari jenis H5N1.

“Sub tipe nya 2.3.2 yang ini merupakan temuan baru di Indonesia yang berbeda dari virus AI yang selama ini ada yaitu 2.1,” kata Pujiatmoko.

Dia melanjutkan temuan jenis baru flu burung di Indonesia diperkirakan karena mutasi gen virus flu burung yang masih dilakukan penelitian detil.

Kemungkinan lain yakni akibat introduksi virus flu burung dari luar seperti dari migrasi burung liar dan impor unggas itik dari luar negeri.

Untuk pencegahan penyebaran, Kementerian telah menginstruksikan agar dilakukan persiapaan pemusnahan massal kepada Pemerintah Daerah dan menyarankan agar tidak menyatukan memelihara itik dengan unggas jenis lain kepada para peternak.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan soal temuan jenis baru AI kalau ada temuan pada manusia,” jelas Pujiatmoko.

Sejauh ini belum ada laporan jenis baru turunan virus flu burung di Indonesia pada manusia.

Jenis virus flu burung  tersebut sebelumnya telah ditemukan di India, Vietnam dan Cina.

Sementara itu, Himpunan Pengusaha Unggas Lokal Indonesia melaporkan sudah lebih dari 300 ribu itik mati seminggu terakhir.

Kematian itik ditemukan baru di empat propinsi di pulau Jawa yakni, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogjakarta.

“Kami meminta agar Pemerintah menghentikan import itik dan melarang pembiakan percampuran bibit itik luar ngeri dengn lokal,” kata Ade Zulkarnaen, Ketua Himpunan Pengusaha Unggas Lokal Indonesia.

Peneliti Avian Influenza dari Universitas Airlangga, Surabaya, CA. Nidom menyatakan Pemerintah perlu melakukan penelitian menyeluruh terkait temuan baru ini, terutama terkait soal kematian itik yang biasanya bertahan dan Cuma bersifat sebagai pembawa virus saja.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.