Cina diprediksi menjadi raksasa ekonomi dunia

Cina diprediksi menjadi raksasa ekonomi dunia

Cina diprediksi menjadi raksasa ekonomi dunia

Diperbaharui 11 December 2012, 17:11 AEDT

Sebuah laporan intelijen memprediksikan, Cina akan mengungguli Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia di tahun-tahun 2020-an, tapi Amerika Serikat akan tetap sebagai negara paling berpengaruh.

Sebuah laporan intelijen memprakirakan, CIna akan mengungguli Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia di tahun-tahun 2020-an.

Dewan Intelijen Nasional, dalam penilaian pertamanya dalam empat tahun yang bertujuan membentuk pemikiran strategis Amerika Serikat, memprediksikan bahwa Amerika Serikat masih akan menjadi negara paling berpengaruh di dunia di tahun 2030.

Studi itu memprediksi bahwa ekonomi Asia, anggaran militer dan investasi teknologi akan melampaui Amerika Utara dan Eropa sebelum 2030, tapi memperingatkan tentang ketidak-pastian terkait kebangkitan Cina.

"Jika Beijing gagal beralih ke model ekonomi yang berdasarkan inovasi dan lebih sustainable, Cina akan tetap sebagai pemain utama di Asia, tapi pengaruh seputar kebangkitannya akan buyar," kata studi itu.

Kekuatan global Cina mungkin akan terus menanjak tapi dengan laju yang lebih lambat.

Eropa, Jepang dan Rusia diperkirakan akan terus mengalami penurunan ekonomi perlahan-lahan sepanjang 2030, sementara sejumlah negara menengah mungkin akan bangkit, seperti Kolombia, Mesir, Indonesia, Iran, Meksiko, Afrika Selatan dan Turki.

Studi itu memprediksi berbagai manfaat besar dari teknologi menjelang 2030, tapi memperingatkan bahwa perubahan iklim mengancam akan menimbulkan tantangan serius.

Dengan populasi yang terus bertumbuh dan penghasilan orang meningkat, kebutuhan akan air, makanan dan energi akan bertambah masing-masing 35, 40 dan 50 persen sebelum 2030.

Cina dan India mungkin perlu mengandalkan pada impor makanan, sehingga membuat harga internasional naik. Keluarga-keluarga di negara-negara miskin bakal paling menderita kesulitan pangan, sehingga mungkin akan memicu keresahan sosial.

Populasi lanjut usia

Dewan Intelijen Nasional memperkirakan, dunia akan berpenduduk hampir 8,3 milyar jiwa di tahun 2030, naik dari 7,1 milyar sekarang ini, tapi usia rata-rata akan lebih tua, dengan kemungkinan konsekwensi yang sangat besar.

Studi itu mengatakan, 80 persen konflik etnik dan bersenjata terjadi di negara-negara dengan populasi kaum muda.

Jumlah negara-negara berpopulasi muda akan menurun tajam sebelum 2030, sebagian besar yang masih tersisa adalah di Afrika.

Daerah-daerah lain yang masih mempunyai populasi muda, yang merupakan pemicu kemungkinan konflik, antara lain Afghanitan, kawasan barat dan suku Pakistan dan negara bagian yang miskin di India, Bihar dan Uttar Pradesh.

Sebaliknya, studi itu mendapati, Timur Tengah "akan menjadi kawasan yang sangat berbeda" di tahun 2030 karena generasi muda yang turun ke jalan dalam pergolakan dan menjatuhkan para diktator telah menjadi lanjut usianya.

Tapi laporan itu memprediksi ketidak-stabilan di negara-negara yang mempunyai akar ketegangan antar-golongan dan ketegangan lain, seperti Bahrain, Irak, Libya dan Suriah, serta Yaman, yang diprediksi dalam studi itu mungkin akan pecah untuk kedua kalinya.

Iran merupakan tanda tanya. Studi itu memprediksi "ketidak-stabilan luas" jika Iran membuat senjata nuklir, tapi juga mengatakan, suatu Iran yang lebih pro-Barat dapat muncul karena tekanan publik dan perpecahan dalam rejim ulama.

Studi itu mengatakan, kemungkinan penyelesaian konflik Israel-Palestina akan mempunyai "konsekwensi dramatis", tapi mengatakan, skenario yang lebih mungkin adalah aksi-aksi tidak resmi yang menuju suatu negara Palestina dengan issue utama seperti status Yerusalem masih belum terpecahkan di tahun 2030.