Laporan resmi KNKT mengenai kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100

Laporan resmi KNKT mengenai kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100

Laporan resmi KNKT mengenai kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100

Diperbaharui 18 December 2012, 23:28 AEST

Hasil Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyimpulkan kecelakaan yang menimpa pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak pada 9 Mei 2012 lalu tidak disebabkan oleh kerusakan pada pesawat, tapi kecelakaan yang menewaskan 45 orang itu dipicu oleh human factor dan sejumlah faktor lainnya.  

Berdasarkan data yang didapat dari kotak hitam (blackbox) pesawat, baik Flight Data Recorder (FDR) maupun Cockpit Voice Recorder (CVR), diketahui tidak ada tanda-tanda kerusakan pada pesawat selama penerbangan. Instrumen peringatan bahaya di pesawat juga berfungsi dengan baik dan memberikan peringatan dengan benar.

Laporan hasil investigasi KNKT menyebutkan, 38 detik sebelum pesawat menabrak tebing Gunung Salak, instrumen peringatan TAWS (Terrain Awareness and Warning System) berbunyi. Instrumen peringatan di pesawat ini secara otomatis berbunyi jika pesawat mendekati daratan di depannya. Namun PIC (Pilot-In-Command) di pesawat yang tengah melakukan penerbangan promosi itu mematikan instrumen TAWS, karena berasumsi instrumen peringatan tersebut bermasalah.

Tujuh detik sebelum tabrakan, peringatan berupa suara yang memperingatkan roda belum diturunkan berbunyi. Dari rekaman blackbox diketahui awak pesawat sempat bertanya kenapa instrumen TAWS berbunyi, dan tabrakan kemudian terjadi tanpa kesempatan manuver recovery oleh awak pesawat.

Hasil simulasi KNKT menyimpulkan, tabrakan sebenarnya bisa dihindari jika awak pesawat melakukan manuver recovery dengan berbelok ke kiri dalam 24 detik setelah alarm peringatan dari instrumen TAWS berbunyi pertama kali.

Meski hasil penyelidikan ini menunjukan banyak human factor yang melatarbelakangi kecelakaan ini, namun KNKT tidak menegaskan kalau kejadian naas ini disebabkan murni oleh kesalahan manusia, yang dalam hal ini adalah PIC. Menurut ketua KNKT, Tatang Kurniadi, meski terdapat human factor, namun tidak semuanya berasal dari human factor tersebut.

Selain itu, ada juga beberapa faktor lainnya. Di antaranya adalah kurangnya data batas ketinggian minimum yang berfungsi untuk daerah Gunung Salak pada pesawat, awak pesawat yang tidak mengenali medan jalur penerbangan, dan adanya pengalihan perhatian saat adanya percakapan panjang yang tidak terkait dengan penerbangan antara awak pesawat dengan penumpang dari calon pembeli yang berada di ruang kemudi atau kokpit pesawat.

Atas hasil investigasi ini, KNKT telah menerbitkan sejumlah rekomendasi yang sudah diteruskan pada sejumlah pihak terkait, yakni Dirjen Perhubungan Udara, PT. Angkasa Pura II selaku perusahaan penyelenggara pemanduan lalu lintas udara, dan pihak Sukhoi Civil Aircraft Company.

Investigasi ini dilakukan selama 7 bulan oleh tim KNKT didampingi tim KNKT Rusia. Seluruh proses pembacaan kotak hitam dan simulasi dilakukan di laboratorium KNKT Jakarta.