Kekerasan di sekolah meningkat, mendesak kebijakan sekolah ramah anak

Kekerasan di sekolah meningkat, mendesak kebijakan sekolah ramah anak

Kekerasan di sekolah meningkat, mendesak kebijakan sekolah ramah anak

Terbit 20 December 2012, 0:32 AEST

Persoalan tindak kekerasan terhadap anak di lembaga pendidikan semakin kompleks dan memprihatinkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tahun 2012 ini terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di sekolah hingga lebih dari 10 persen.

Wakil Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  Apong Herlina mengatakan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah terjadi dalam berbagai jenis baik itu dilakukan oleh guru  maupun antar siswa. Kasus kekerasan itu juga terjadi merata hampir di seluruh wilayah di Indonesia.   

Catatan ini didasarkan pada hasil survey KPAI di 9 propinsi terhadap lebih dari 1000 orang siswa siswi. Baik dari tingkat Sekolah Dasar/MI, SMP/mts, maupun SMA/ma. Survey ini menunjukan 87,6% siswa mengaku mengalami tindak kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun psikis, seperti dijewer, dipukul, dibentak, dihina, diberi stigma negatif hingga dilukai dengan benda tajam. Dan sebaliknya 78,3 persen anak juga  mengaku pernah melakukan tindak kekerasan dari bentuk yang ringan sampai yang berat. 

Kasus kekerasan fisik di lingkungan sekolah yang mencolok antara lain tawuran, perpeloncoan saat masa orientasi siswa atau MOS dan bullying.

Situasi ini menurut Apong sangat memprihatinkan. KPAI menyesalkan sikap pemerintah yang terkesan melakukan pembiaran terhadap permasalahan ini. Apong mencontohkan tidak adanya kebijakan yang ketat bagi sekolah untuk menekan angka kekerasan  di lingkungan pendidikan.

“Misalnya harus merekrut guru-guru yang tidak potensi menjadi pelaku kekerasan.. itu kan bisa psikotes. Di beberapa negara, orang yang pernah melakukan kekerasan  terhadap anak, itu tidak diterima menjadi guru. Di kita ada ga aturan seperti itu? Ga ada.“

Apong Herlina menambahkan KPAI berharap kedepan pemerintah   memberikan perhatian yang lebih serius terhadap hal ini. Jika terus dibiarkan, kekerasan di sekolah dapat mengakibatkan berkembangnya  berbagai emosi negatif  pada anak didik seperti marah, dendam, tertekan, takut ,malu, tidak nyaman dan terancam. Dalam jangka panjang hal itu dapat memicu  perasaan rendah diri dan tidak berharga bagi siswa yang menjadi korban kekerasan.

KPAI juga mendesak pemerintah agar segera menerbitkan kebijakan sekolah ramah anak di seluruh sekolah di Indonesia. Sehingga kedepan sekolah tidak hanya menjadi lembaga yang berorientasi pada pencapaian target kurikulum tapi penyelenggaraannya juga menghormati HAM dan prinsip perlindungan anak.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Mustaqfirin membantah jika dikatakan pihaknya tidak serius mengatasi kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan.

Kekerasan di sekolah kata Mustaqfirin disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena kondisi sekolah yang kurang nyaman dan juga kurikulum sekolah.  Untuk itulah kurikulum 2013 nanti menurutnya diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih ramah anak.

“Makanya kurikulum tahun 2013 ini, nanti akan bisa menjadi semacam titik tumpu awal untuk secara komprehensif menata bagaimana kita menghadapi satu kultur baru dimana anak-anak harus sadar tentang haknya, sadar tentang harus menghargai kepada orang lain dan sadar untuk tidak melakukan tindak kekerasan.” Jelasnya.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.