Penjaga tradisi medali, kurang nutrisi: angkat besi di Indonesia

Penjaga tradisi medali, kurang nutrisi: angkat besi di Indonesia

Penjaga tradisi medali, kurang nutrisi: angkat besi di Indonesia

Diperbaharui 20 December 2012, 16:03 AEDT

Angkat besi kini telah menjadi salah satu cabang olahraga andalan Indonesia yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di berbagai ajang kejuaraan olahraga dunia. Pemerintah Australia telah memberi dana bantuan bagi cabang olahraga ini, tapi para atlet angkat besi masih menghadapi berbagai kesulitan.  

Di ajang Olimpiade London lalu, misalnya, angkat besi menjadi satu-satunya cabang olahraga yang mampu mempersembahkan medali bagi kontingen Indonesia. Dua atlet nasional angkat besi, Triyatno dan Eko Yuli, berhasil meraih medali perak dan perunggu. Keduanya mengangkat nama Indonesia dengan negara peraih medali lainnya di ajang olahraga bergengsi tersebut

Untuk menjaga tradisi ini, Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI) gencar melakukan pembinaan dan regenerasi atlet angkat besi. Pusat Angkat Besi Bekasi, yang dikomandani pelatih Sodikin, adalah salah satu yang paling sukses menggalang misi ini.

Sodikin (54) menjadi pelatih angkat besi di pusat angkat besi PABBSI cabang Bekasi Jawa Barat sejak 1999. Sebelum menjadi pelatih, Sodikin adalah atlet nasional dengan sederet prestasi. Di antaranya juara emas  5 kali pada ajang Seagames, peringkat 5 pada ajang Olimpiade, dan pernah tercatat sebagai atlet angkat besi urutan kedua dunia.

Namun kebanggaan terbesarnya saat ini adalah banyaknya bibit atlet angkat besi yang dididiknya. Menurut Sodikin, ia melatih lebih dari 100 orang atlet berusia  8 tahun hingga 25 tahun dari berbagai kelas angkatan.

“Saya punya stok atlet remaja junior itu hampir 45 orang lebih. Yang sudah siap go international dan nasional itu 25 orang untuk tingkat Jawa Barat itu aja ada 20-an orang. Itu melimpah, biasanya pengurus cabang paling top 10 orang,” ungkapnya.

Stok atlet yang  melimpah ini pertanda sukses yang patut mendapat acungan jempol. Pasalnya cabang olahraga angkat besi bukan termasuk cabang olahraga yang popular dan bergengsi di kalangan anak muda apalagi remaja. 

“Orang tua jarang yang mendorong anaknya menekuni olahraga angkat besi, takut anaknya pendek, padahal itu tergantung gizinya. Kalo gizinya bagus, badannya tetap tinggi. Banyak kok atlet angkat besi yang besar tinggi badannya.” cerita Sodikin.

Rekrut atlit dari keluarga miskin

Sodikin menuturkan bahwa olahraga angkat besi tidak diminati masyarakat kelas atas. Rata-rata yang menekuni olahraga ini adalah masyarakat dari golongan tidak mampu. Namun kondisi ini juga yang memicu semangat Sodikin. Ia bertekad mengubah nasib anak-anak muda dari keluarga miskin di lingkungannya lewat olahraga angkat besi.

“Rata-rata anak-anak yang saya bina di sini di bawah standard penghasilan orang tuanya. Kalo gak tukang ojek, pemulung ama petani. Sehingga anaknya didorong untuk ikut angkat besi supaya berhasil. Dia liat contohnya, ada anak yang saya didik berhasil, bisa beliin orang tuanya motor untuk ngojek, berangkat haji dan lain-lain.”

Semangat dan kerja Sodikin untuk mengangkat standard hidup masyarakat di lingkungannya inilah yang membuat pemerintah Australia menganugerahkan  hibah bantuan sebesar A$30.000 untuk Pusat Angkat Besi Bekasi yang dipimpin Sodikin. Dana itu diserahkan dalam bentuk perlengkapan latihan angkat besi yang baru dan membantu merenovasi fasilitas gedung tempat latihan para atlit binaan Sodikin.

"Pusat Angkat Besi Bekasi merupakan contoh yang mengagumkan tentang arena pelatihan berbasis masyarakat yang mempunyai potensi untuk menghasilkan lebih banyak lagi atlet angkat besi tingkat daerah, nasional dan internasional," demikian kutipan pernyataan Dubes Australia, Greg Moriarty, dalam siaran pers yang diterbitkan  oktober lalu.

Australia berharap dana hibahnya dapat mendukung masa depan cabang olahraga angkat besi Indonesia. karena diketahui Sodikin banyak menelurkan atlet berbakat, seperti Mohammad Hasbi dan Deni yang memperkuat tim olimpiade 2012, serta pemenang medali perunggu Olimpiade Pemuda Dewi Safitri.

Kurang nutrisi

Kini, setelah sarana fisik terpenuhi, masih ada kendala mendasar yang dihadapi Sodikin dalam membina atlit junior angkat besi di wilayahnya. Karena kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu, sebagian besar atlit binaannya, menurut Sodikin, tidak mampu memenuhi asupan gizi standard yang dibutuhkan atlet angkat besi.

“Kalo ukuran ahli gizi, atlet angkat besi itu, paling gak 5000 maksimal 6000 atau 7000 kalori sehari. Itu kan banyak makanannya banyak misalnya daging minimal 1/4 kg, telor, sayur, buah , susu. Mereka gak mampu. Paling mereka dapet 1500 atau 2000, itu juga sampe dah,” tutur Sodikin.

Padahal asupan gizi dengan kadar kalori tinggi ini sangat menentukan penampilan mereka saat bertanding. Sodikin mengibaratkan asupan gizi itu sebagai bahan bakar kendaraan.

“Ibaratnya saya mau ke Bogor tapi bensin saya cuma seliter, kan  gak bisa pulang. Kalo bensin saya 5 liter saya bisa pulang pergi. Begitu juga atlet. Kalo gizinya gak bagus, gak bisa berprestasi.”

Salah satu atlit binaan Sodikin, Halimah, peraih emas PON ke-18 di Riau lalu, mengaku cukup berat memenuhi asupan gizi sesuai standard dan suplemen yang dibutuhkan. Jujur Halimah mengaku koceknya sebagai PNS di pemerintah kota Bekasi tidak mampu untuk melakukan itu. Ia berharap, ke depan, pemerintah daerah dan KONI pusat memberikan perhatian yang lebih banyak bagi atlet angkat besi, khususnya di kota Bekasi yang kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu.

“Jangankan buat beli makanan dan suplemen, buat ongkos datang ke tempat latihan aja sulit. Kadang sampe harus pinjem duit dulu, nanti pulang minta uang ganti ama pelatih (Sodikin),” ujar Halimah.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.