Jakarta 'tenggelam' di tengah-tengah kekeringan air

Jakarta 'tenggelam' di tengah-tengah kekeringan air

Jakarta 'tenggelam' di tengah-tengah kekeringan air

Terbit 30 December 2012, 8:38 AEST

Ahli-ahli di Indonesia mempersiapkan pembangunan tembok besar untuk mencegah lautan menenggelamkan Jakarta.

Beberapa wilayah di Jakarta kini telah tenggelam setiap kali air laut pasang naik, tapi masalah ini diperkirakan akan semakin parah. 

Jakarta tenggelam sebanyak 10 sentimeter per tahun dan Badan Nasional Penanggulanan Bencana mengatakan, dengan permukaan air laut yang terus naik, banyak bagian dari kota Jakarta, termasuk bandar udara, akan tenggelam total pada tahun 2030.

Banjir dan air laut pasang naik telah menyebabkan masalah bagi penduduk kota berpopulasi setidaknya 10 juta orang ini.

Kartoyo, seorang pemilik warung, mengatakan ada sekitar 30 sentimeter air di warungnya saat ini. 

"Dulu lebih mudah," katanya.

"Banjir seperti ini bisa dihadapi, tapi semoga tidak akan menjadi lebih tinggi. Orang-orang di sini tidak bisa ke pasar karena banjir dan anak-anak tidak bisa ke sekolah."

Pada tahun 2009, sebuah tembok kecil yang menghadap laut telah dibangun, tapi air laut masih mencapai daratan melalui pipa-pipa.

Tapi walaupun beberapa wilayah Jakarta kini menghadapi air yang terlalu banyak, wilayah lainnya menghadapi masalah sebaliknya.

Audio: Listen to George Roberts' report (AM)

 

Juriah hidup di sebelah konstruksi bangunan baru, salah satu dari banyaknya bangunan-bangunan tinggi yang menggapai langit Jakarta selagi ekonomi di Indonesia meningkat pesat. Tapi persediaan air bagi Juriah dan warga di sekitar konstruksi ini telah menurun pesat.

"Karena pembangunan di sebelah menghisap semua air, air berhenti sejak proyek mulai -sekitar tiga bulan yang lalu. Itu yang menyebabkan kekurangan air, saya pikir," katanya.

Juriah menggunakan pompa air kecil, dan tidak ada air yang bisa didapat dari pompa tersebut. Pada awalnya, ada sedikit air, tapi sekarang sudah habis total.

'Banjir besar'

Pembangunan bangunan-bangunan tinggi menghisap air tanah, yang meninggalkan saluran-saluran kering di bawah permukaan kota, dan menyebabkan kota Jakarta perlahan-lahan bergerak ke bawah, di mana saluran-saluran yang tadinya dipenuhi air tersebut berada.

"Dari pengamatan kami, sejak 1960an air tanah sudah menurun sekitar 30 meter," kata Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Dodid Murdohardono.

"Penurunan air tanah ini menyebabkan tekanan atas lapisan air tanah dan itulah sebabnya Jakarta tenggelam."

Sutopo Purwo Nugroho, ahli hidrologi pada Badan Penanggulangan Bencana Nasional, mengatakan kalau masalah ini tidak diperbaiki, konsekuensinya akan luar biasa.

"Kalau upaya perbaikan tidak secepat sumber masalah, lebih dari lima juta orang akan terpengaruhi," katanya.

Kini, Jakarta memiliki kurang dari 20 tahun untuk memperbaiki masalah air.

Sutopo Purwo Nugroho menyatakan dalam 30 tahun ke depan, Jakarta akan membangun bendungan besar sekitar Teluk Jakarta untuk mengantisipasi peningkatan permukaan air laut, ombak, dan penurunan tanah.