Rapper perempuan pertama Afghanistan menyuarakan penderitaan

Rapper perempuan pertama Afghanistan menyuarakan penderitaan

Rapper perempuan pertama Afghanistan menyuarakan penderitaan

Terbit 4 January 2013, 12:14 AEDT

Dengan jaket kulit dan celana ceans di balik penutup kepalanya, Sosan Firooz terlihat seperti banyak perempuan modern lainnya di Kabul.

Sosan Firooz adalah contoh sebuah fenomenon baru di negara konservatif ini -dia adalah musisi rapper perempuan pertama di Afghanistan, dengan beberapa pementasan yang telah dia lakukan, termasuk di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kabul.

Lirik yang dia sampaikan bukanlah sesuatu yang aneh bagi sesama perempuan di Afghanistan, karena dia menyanyi tentang pemerkosaan, penyiksaan, dan kekejaman yang terjadi atas banyak perempuan di Afghanistan selama beberapa dekade hidup dalam suasana perang dan kemiskinan.

"Lagu rap saya adalah tentang penderitaan perempuan di negara saya, rasa sakit karena perang yang telah kami rasakan, dan kekejaman perang," kata Sosan Firooz.

Seperti kebanyakan warga Afghanistan, perempuan berusia 23 tahun tersebut mengatakan hidupnya dipenuhi kepahitan perang, pemboman, dan kehidupan di dalam kamp-kamp pengungsi di Iran dan Pakistan.

"Kalau menyanyi rap adalah cara untuk mengekspresikan penderitaan yang kamu rasakan, kami orang Afghanistan punya banyak yang ingin kami katakan," katanya.

"Itulah alasan saya memilih rap."

Rekaman lagu pertamanya, Our Neighbours, yang bercerita tentang kehidupannya di kamp pengungsi di Iran diterbitkan di Youtube dan telah dilihat lebih dari 100,000 kali.

Lirik lagu tersebut, yang memiliki lirik 'Afghan kotor', dilahirkan dari pengalaman pribadinya.

"Waktu kecil, ketika saya membawa roti dari toko roti, orang-orang Iran akan mengatakan kepada saya: 'pulang saja, kamu Afghan yang kotor," katanya.

"Saya akan jadi orang terakhir di antrian roti tersebut."

Bintang musik pop Afghanistan, Farid Rastagar, menawarkan untuk membantu musisi muda ini merilis albumnya, dan lagu pertama album tersebut akan dirilis pada bulan Januari.

Salah satu lagunya yang berjudul Naqis-Ul Aql, yang artinya kurang lebih "kurang cerdas" berasal dari kepercayaan banyak lelaki di Afghanistan mengenai perempuan.

"Dalam lagu rap ini, dia bernyanyi mengenai penderitaan perempuan di Afghanistan, tentang kekejaman dan kepercayaan salah yang masih ada tentang perempuan," kata Farid Rastagar.

Banyak kemajuan yang telah terjadi atas perlindungan hak kaum perempuan sejak jatuhnya Taliban, tapi masih banyak yang menjadi korban tindak kekejaman, bahkan pembunuhan.  

Sosan Firooz, yang mendapat dukungan dari orang tuanya, telah mendapat permusuhan juga bukan hanya dari kaum konservatif, tapi juga dari keluarganya.

Setelah lagu pertamanya dirilis di internet, beberapa paman dan anggota keluarga lainnya mengucilkan dirinya, dan menuduh dirinya telah mempermalukan keluarga.

Beberapa yang lain menelepon dia, tanpa memberi nama, dan mengancam akan membunuh dirinya.

"Saya selalu menerima telepon dari pria-pria tanpa nama yang mengatakan bahwa saya adalah perempuan jahat dan mereka akan membunuh saya," katanya.

Tapi dengan dukungan ayahnya, Abdul Ghafaar Firooz, yang mengatakan dia bangga menjadi 'sekretaris pribadi' anaknya, Sosan mengatakan tidak takut.

"Seseorang harus memulai ini, saya sudah memulainya, dan saya tidak menyesal dan akan terus melakukan ini," katanya.

"Saya ingin jadi suara perempuan di negara saya."

AFP