Presiden Suriah, Bashar al-Assad, serukan dialog

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, serukan dialog

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, serukan dialog

Diperbaharui 7 January 2013, 10:47 AEST

Dalam pidato yang jarang, Presiden Suriah, Bashar al-Assad, menyerukan dialog nasional untuk mengakhiri konflik yang sudah berjalan 21 bulan di negaranya, tapi menekankan, ia tidak akan berbicara dengan mereka yang mengangkat senjata melawan rejimnya.

Sambil melukiskan oposisi dukungan Barat sebagai "budak" kekuatan asing dan mengakui bahwa Suriah dilanda "perang nyata", Presiden Assad mendesak para penentangnya di dalam negeri untuk bergabung dengan rejimnya mengakhiri konflik berdarah.

Ia menguraikan suatu rencana transisi, namun menekankan, setiap keputusan harus murni oleh Suriah dan disahkan dengan referendum, termasuk suatu "piagam nasional" yang akan disetujui bersama dalam suatu konferensi dialog nasional.

Assad mengatakan, pemerintahnya akan segera mengeluarkan rincian rencananya, yang menyerukan kepada negara-negara asing agar berhenti membiayai oposisi  bersenjata, disusul dengan diakhirinya operasi militer dan mekanisme untuk memonitor kedua pihak.

"Negara-negara regional dan internasional harus berhenti mendanai orang-orang bersenjata agar memungkinkan para pengungsi pulang ke rumah mereka .... setelah itu opersi militer akan dihentikan," katanya.

Setelah itu pemerintah akan menggelar suatu konferensi dialog nasional dengan pihak oposisi "dari dalam dan luar negeri, yang tidak menerima perintah dari luar negeri.

"Kita akan akan berdialog dengan budak kekuatan asing," kata Assad, yang disambut dengan  tepuk tangan meriah dari hadirin yang memenuhi Pusat Seni dan Budaya Dar al-Assad di Damaskus.

Berdasarkan rencana itu, konferensi akan menyusun suatu piagam nasional yang akan menjadi dokumen rujukan bagi masa depan politik dan ekonomi Suriah.

"Piagam ini akan disetujui lewat referendum," kata Assad.

Setelah itu, pemilu legislatif akan diselenggarakan, disusul dengan pembentukan suatu pemerintah baru.

Namun Assad menekankan, untuk melaksanakan semuanya ini "harus ada kesepakatan pada konferensi dialog nasional".

Al Qaeda dituding

Assad mengatakan, konflik di Suriah bukan konflik antara pemerintah dan oposisi, tapi antara "negara dan musuh-musuhnya".

"Satu hal yang pasti, mereka yang kita hadapi sekarang ini adalah mereka yang menganut ideologi Al Qaeda," katanya, menegaskan statement sebelumnya bahwa "teroris asing" berada dibalik pergolakan di negaranya.

"Mereka yang menginginkan perpecahan Suriah dan memperlemahnya. Tapi Suriah kuat... dan akan tetap berdaulat... dan inilah yang menggusarkan Barat."

Assad terakhir berbicara di depan publik pada tanggal 3 Juni ketika ia berpidato di Parlemen di Damaskus. Pada bulan November ia diwawancarai oleh televisi Rusia dalam mana ia menepis laporan bahwa ia akan pergi mengasingkan diri, dan mengatakan, ia akan "hidup dan mati" di Suriah.

Sejak itu ia belum berkomentar tentang konflik yang berkecamuk di negaranya, menewaskan paling sedikit 60,000 orang dalam 21 bulan sejak pergolakan dimulai Maret 2011, menurut angka PBB.

Namun dalam pidatonya pada hari Minggu, ia menghimbau seluruh rakyat Suriah untuk bersama-sama membela negara.

Presiden Assad menekankan di sepanjang pidatonya bahwa rakyat Suriah sendiri yang harus memutuskan tentang masa depan mereka dan menuduh negara-negara asing ikut campur tangan dalam konflik.

Assad mengatakan, negaranya juga terbuka terhadap "saran" dari luar tapi "tidak menerima perintah".

Sebagai penutup, ditengah sambutan gegap gempita dari hadirin, Assad mengatakan" "Saya dari rakyat dan saya akan terus menjadi bagian dari rakyat. Jabatan datang dan pergi, tapi negara tetap ada."