Korban perkosaan di Maladewa mungkin akan dicambuk

Korban perkosaan di Maladewa mungkin akan dicambuk

Korban perkosaan di Maladewa mungkin akan dicambuk

Diperbaharui 9 January 2013, 16:42 AEDT

Presiden Maladewa telah menyerukan keringanan hukuman dalam kasus seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang katanya korban perkosaan, yang mungkin akan dicambuk di depan umum karena berzinah.

Amnesty International mengatakan, ada alasan kuat untuk percaya bahwa anak perempuan itu diperkosa oleh ayah tirinya berulang kali selama bertahun-tahun.

Dikatakan, ia pada akhirnya melahirkan seorang bayi, yang ditemukan dikubur di halaman rumah keluarga itu.

Polisi telah mengenakan dakwaan atas ayah tiri dan ibu dari anak perempuan itu, tapi berdasarkan hukum Syariah, korban juga menghadapi tuduhan berzinah, yang diancam hukuman 100 kali dicambuk di depan umum.

Periset Amnesty, Abbas Faiz, mengatakan kepada Radio Australia, tuduhan itu seharusnya tidak dikenakan.

"Dia seharusnya mendapat dukungan, bukannya dihukum," kata Faiz.

"Anak perempuan ini telah diperkosa, dan membutuhkan bantuan dan konseling, ... sekarang malah semua pihak berwenang di Maladewa memutuskan untuk mengenakan tuduhan atas dirinya."

Jika dinyatakan bersalah, anak perempuan itu akan dikenai tahanan rumah sampai ia berusia 18 tahun, pada waktu mana ia akan dicambuk di depan umum.

Juru bicara Presiden Maladewa Mohamed Waheed telah menyerukan keringanan, dan mengatakan, hukuman cambuk dapat secara simbolis dan tidak dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sakit.

Abbas Faiz, pencambukan itu, simbolis atau tidak, tidak boleh dilaksanakan.

"Khususnya dalam kasus ini, mungkin yang ingin mereka lakukan adalah mempermalukan anak perempuan itu dengan dicambuk," katanya.

"Apakah pencambukan itu kejam atau tidak - kenyataannya adalah seorang anak perempuan berusia 15 tahun akan hidup dalam ketakutan setiap hari selama tiga tahun bahwa ia akan dicambuk."

Juru bicara kepresidenan mengatakan, Presiden tidak dapat turun tangan langsung dalam proses pengadilan, tapi Abbas Faiz menyerukan respon yang lebih kuat dari pemerintah.

"Mereka harus mengubah undang-undang. Pencambukan terus terjadi hampir setiap bulan untuk kasus-kasus kecil menyangkut pelanggaran agama - dan pemerintah seharusnya menghentikan penggunaan hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan ini."