Nike dituduh gunakan militer untuk intimidasi pekerja di Indonesia

Nike dituduh gunakan militer untuk intimidasi pekerja di Indonesia

Nike dituduh gunakan militer untuk intimidasi pekerja di Indonesia

Diperbaharui 15 January 2013, 14:13 AEST

Buruh pabrik sepatu Nike di Indonesia mengatakan perusahaan tersebut membayar anggota militer yang melakukan tindakan intimidasi untuk memaksa pekerja menerima gaji di bawah upah minimum rata-rata.

Setelah jutaan buruh melakukan demonstrasi atas gaji rendah dan kenaikan biaya hidup tahun lalu di Indonesia, pemerintah Indonesia meningkatkan Upah Minimum Propinsi (UMP). 

Tapi beberapa pekerja di sebuah pabrik Nike di Sukabumi, Jawa Barat, mengatakan mereka dipaksa menanda tangani petisi yang mendukung klaim pabrik bahwa pabrik tersebut bisa dibebaskan dari kewajiban membayar tingkat upah minimum.

Dalam sebuah rekaman video yang menggunakan telepon genggam, yang telah dilihat oleh ABC, seorang lelaki berdiri di hadapan pekerja dan mengatakan "kalian semua harus menandatanganinya."

Pekerja yang mengambil rekaman video tersebut, yang tidak ingin diumumkan namanya, mengatakan dia dan pekerja lainnya berusaha untuk menolak pembebasan kewajiban membayar upah baru tersebut.

"Kami dipanggil oleh anggota militer yang disewa oleh perusahaan untuk menginterogasi dan mengintimidasi kami," katanya.

"Hal pertama yang menakutkan adalah suaranya yang tinggi dan dia menggebrak meja."

"Dan dia juga mengatakan, di dalam pabrik, banyak petugas intelijen tentara. Itu membuat saya takut."

 

Serikat pekerja di Indonesia mengatakan setidaknya enam pabrik yang mendapat kontrak dari Nike telah mendaftar untuk dibebaskan dari tingkat upah baru.

Direktur Trade Union Rights Centre, Surya Tjandra, mengatakan ada celah yang membuat perusahaan bisa meminta penangguhan upah minimum regional atau upah minimum propinsi.

"Anda harus menyediakan kondisi finansial perusahaan dalam dua tahun terakhir yang menunjukkan kerugian, dan Anda juga harus mendapatkan persetujuan dari pekerja secara langsung, yang tidak begitu mudah karena, untuk para pekerja, upah yang baru lebih baik dan adil," katanya.

Aktivis mengatakan, setelah membayar biaya kontrak tempat tinggal dan transportasi, upah minimum sebelumnya hanya akan cukup membeli satu kali makan.

Salah satu aktivis tersebut, Jim Keady, memimpin lembaga swadaya masyarakat Amerika Serikat bernama 'Educating for Justice'.

"Menurut saya, ini adalah jelas pelanggaran dari kode etik Nike, dan dalam artian yang lebih luas, upah minimum ini adalah upah kemiskinan," katanya.

"Untuk membayar lebih sedikit daripada upah minimum, saya kira benar-benar berlawanan dengan klaim Nike bahwa mereka peduli atas kesejahteraan pekerja mereka dan mereka ingin melihat kehidupan yang baik atas pekerja."

Penyelidikan oleh Nike

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Nike mengatakan perusahaan tersebut sedang melakukan penyelidikan.

"Nike mengharapkan pekerja kontrakan di pabrik untuk mendapat upah setidaknya yang sesuai dengan upah minimum sesuai dengan hukum negara dan mendapatkan fasilitas yang diatur secara hukum, termasuk liburan, cuti, dan pesangon ketika terjadi pemutusan hubungan kerja."

ABC bertanya ke kantor pusat Nike apakah perusahaan tersebut mengetahui tuduhan akan adanya pembayaran atas anggota militer dan tindakan intimidasi atas pekerja untuk menerima upah di bawah UMP.

Juru bicara tersebut mengatakan, setelah berdiam sejenak, bahwa dia tidak akan bisa berbicara mengenai perincian tuduhan tersebut, tapi bahwa Nike telah melakukan penyelidikan.

Jim Keady mengatakan situasi upah minimum ini sangat mudah dipecahkan.

"Seseorang seperti Phil Knight, pendiri Nike. Orang itu bernilai 10.3 miliar dolar Amerika Serikat. Berapa banyak lagi uang yang diperlukan? Kalau pendapatan [orang seperti Phil Knight] berkurang satu miliar dolar, itu bisa digunakan untuk mengangkat jutaan orang ke atas garis kemiskinan."

"Saya bukan meminta sumbangan, saya bukan ingin dia memberikan uangnya begitu saja. Saya bicara tentang keadilan."

"Beri upah bagi manusia sesuai dengan apa yang mereka layak dapatkan. Mereka telah bekerja untuk upah tersebut. Beri mereka upah yang layak," lanjutnya.

Jim Keady mengatakan Nike mendapatkan keuntungan 2.2 miliar dolar AS tahun lalu.