Perancis lancarkan serangan darat terhadap pemberontak Mali

Perancis lancarkan serangan darat terhadap pemberontak Mali

Perancis lancarkan serangan darat terhadap pemberontak Mali

Diperbaharui 17 January 2013, 12:30 AEST

Pasukan Perancis telah melancarkan serangan darat pertama terhadap pemberontak Islamist di Mali, dengan pertempuran di kota Diabaly dan Konna di Mali tengah.

Tentara Perancis bertempur melawan pemberontak Islamist di Mali dalam perang yang semakin memanas, sementara laskar yang berkaitan dengan Al-Qaeda menyatakan telah menyandera 41 warga asing sebagai pembalasan di Aljazair, dengan dua orang dilaporkan tewas.

Setelah melancarkan serangan udara selama beberapa hari terhadap posisi-posisi Islamist di wilayah utara yang direbut pemberontak pada bulan April, pasukan darat Perancis dan Mali menggempur pemberontak di kota Diabaly dan Konna di utara ibukota Bamako.

Dalam perkembangan dramatis di seberang perbatasan di Alajazair, kaum Islamist menyatakan menahan 41 sandera asing, termasuk tujuh orang Amerika, dalam serangan di sebuah ladang gas.

Serangan itu merupakan pembalasan pertama oleh kaum Islamist atas intervensi Perancis yang dimulai 11 Januari, dan dilancarkan setelah Aljazair mendukung offensif di Mali dan mengijinkan pesawat-pesawat tempur Perancis di wilayah udaranya.

Kementerian Pertahanan Perancis memperingatkan tentang meningkatnya ancaman serangan dan penculikan di daerah itu.

Perancis sudah memperkuat keamanan di dalam negeri setelah ancaman pembalasan.

Sementara offensif berjalan, Presiden interim Mali, Dioncounda Traore, mengunjungi tentara Perancis di Bamako, dan berikrar: "Bersama-sama kita akan memenangkan perang" melawan "kegelapan yang mengancam seluruh dunia".

Pada hari Rabu, tentara Perancis melancarkan serangan darat di Diabaly, sebuah kota yang direbut dua hari sebelumnya oleh laskar pimpinan Abou Zeid, salah-seorang pemimpin AQIM. Bentrokan juga terjadi tidak jauh dari kota Konna, kata sumber keamanan.Militer Perancis mengatakan telah mengamankan sebuah jembatan strategis di Sungai Niger dekat kota Markala, selatan Diabaly, memblokir jalan utara ke Bamako.Menteri Pertahanan Perancis, Jean-Yves Le Drian, mengatakan, zona barat dimana Diabaly terletak merupakan basis kelompok-kelompok paling tangguh, paling fanatik dan paling rapi organisasinya.

Pengusutan ICC

International Criminal Court (ICC) atau Pengadilan Kejahatan Internasional di Den Haag mengatakan telah meluncurkan pengusutan kejahatan perang terhadap pemberontak setelaj organisasi-organisasi HAM dan sumber-sumber militer melaporkan tentang pengerahan tentara anak dan penggunaan warga sipil sebagai perisai manusia.

Sementara tawaran dukungan non-militer bagi intervensi Mali terus mengalir - dengan Jerman menjanjikan dua pesawat pengangkut dan Italia menjanjikan dukungan logistik - pemimpin Pantai Gading, Alassane Ouattara, mendesak semua mitra Eropa untuk melakukan "mobilisasi".

Kontingen pertama 190 tentara Nigeria akan tiba di Bamako sebagai bagian dari pasukan regional negara-negara Afrika Barat.

Perancis mengatakan, tentaranya akan berlipat tiga dari 800 menjadi 2,500 orang, untuk melawan sekitar 1,300 laskar Islamist.

PBB dan badan-badan bantuan melaporkan, sekitar 370,000 orang Mali sudah tergusur oleh pertempuran.

Mali telah terpecah dua sejak Aprik 2012, ketika pemberontak Islamist memanfaatkan kudeta militer di Bamako dan separatis Tuareg melancarkan offensif di utara dan merebut separuh negara itu.

Negara-negara Barat telah menyuarakan kecemasan bahwa negara gurun itu dapat menjadi basis global Al-Qaeda dan digunakan untuk melancarkan serangan ke sasaran-sasaran di Eropa.