Aljazair dikritik terkait operasi penyelamatan sandera di ladang gas

Aljazair dikritik terkait operasi penyelamatan sandera di ladang gas

Aljazair dikritik terkait operasi penyelamatan sandera di ladang gas

Terbit 19 January 2013, 11:12 AEDT

Aljazair dihujani kritikan sementara kekhawatiran semakin besar tentang puluhan sandera yang masih belum diketahui nasibnya setelah operasi penyelamatan yang memakan korban jiwa di sebuah ladang gas di gurun.

Aljazair dihujani kritikan internasional sementara kekhawatiran semakin besar tentang puluhan sandera asing yang masih belum diketahui nasibnya setelah serangan terhadap penyandera militan Islamist di sebuah ladang gas di gurun.

Nampaknya tentara pemerintah Aljazair menyerang ketika para militan Islamist itu sedang berusaha memindahkan para sandera dengan lima kendaraan dari lokasi itu.

Belum jelas berapa yang tewas, tapi pemerintah Aljazair telah menegaskan, korban jiwa mencakup sandera dan para penculiknya.

Menteri Komunikasi Aljazair, Mohamed Said, mengatakan, serangan pada hari Kamis itu juga membebaskan "sejumlah besar" sandera, dengan kantor berita Aljazair, APS, melaporkan, tentara membebaskan hampir 650 sandera, termasuk sekitar 70 warga asing.

APS mengutip seorang pejabat pemerintah yang mengatakan, serangan terhadap "kelompok teroris multinasional" itu dilancarkan dibawan kondisi yang sangat rumit, dan bahwa pihak penyandera memiliki rudal, peluncur roket, sabuk dengan bahan peledak dan senjata ringan.

Pihak penyandera mengatakan, 34 sandera tewas dalam serangan tentara, tapi sebuah sumber keamanan Aljazair menyebutnya sebagai "khayalan", dan mengatakan, 18 dari lebih 30 orang Islamist bersenjata ditewaskan.

Perusahaan minyak BP mengatakan, beberapa staffnya masih belum diketahui nasibnya, dan BP telah mengevakuasi ratusan pekerja dari kompleks itu dan ladang lainnya.

Inggris mengatakan, "insiden teroris" terus terjadi, dan pihak berwenang Aljazair mengakui, meski mereka merebut kembali sebuah komplek perumahan di ladang In Amenas, namun ladang gas itu masih berada di tangan militan.

Pemerintah-pemerintah Barat mengatakan, mereka tidak diberitahu terlebih dulu tentang operasi penyelamatan itu, dan pemerintah Jepang melukiskannya sebagai "patut disesalkan".

Kementerian Luar Negeri Jepang memanggil Dubes Aljazair untuk meminta penjelasan, sedangkan seorang pejabat tinggi Amerika di Washington mendesak pihak berwenang agar memprioritaskan keselamatan sandera.

Namun Aljazair mengatakan: " Pada waktu berhadapan dengan teroris, tidak ada negosiasi."

Militan menahan ratusan sandera di ladang minyak di gurun Sahara itu pada hari Rabu, diduga sebagai pembalasan atas offensif Perancis di Mali.

 

Ladang gas In Amenas itu dioperasikan bersama oleh BP, perusahaan negara Aljazair, Sonatrach, dan perusahaan minyak Norwegia, Statoil.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan, ia kecewa tidak diberitahu terlebih dulu tentang operasi penyelamatan itu, dan mengatakan, hampir 30 warga Inggris masih menghadapi resiko di ladang gas itu.

Satu warga Inggris sudah ditegaskan tewas pada tahap awal penyanderaan.

Menteri Pertahanan Amerika, Leon Panetta, mengatakan, pejabat-pejabat Amerika bekerja siang dan malam untuk mengupayakan pembebasan dengan selamat sejumlah sandera Amerika, dan Washington mengatakan tidak akan berunding soal pertukaran sandera.

Menlu Hillary Clinton berbicara dengan Perdana Menteri Aljazair, Abdelmalek Sellal, untuk mengusahakan koordinasi dalam krisis penyanderaan ini.

Perdana Menteri Norwegia, Jens Stoltenberg, mengatakan, Norwegia harus mempersiapkan diri mengahdapi "kabar buruk" mengenai nasib delapan sandera Norwegia yang masih belum diketahui.

 

Para penyandera kabarnya dari Brigade Khaled Abu al-Abbas, sebuah kelompok tak dikenal yang berkaitan Al Qaeda dan dipimpin oleh Mokhtar Belmokhtar.

Mereka mengatakan kepada kantor berita Mauritania, ANI, bahwa mereka akan membunuh semua sandera jika pasukan Aljazair berhasil memasuki kompleks itu.

Seorang pria dari Irlandia Utara berhasil menyelamatkan diri.

Menurut saudara laki-lakinya, Stephen McFaul kabur ketika konvoinya ditembaki oleh militer dan sebelumnya ia dikalungi bahan peledak di lehernya."