Kerusuhan berbau etnis terjadi di Sumbawa.

Kerusuhan berbau etnis terjadi di Sumbawa.

Kerusuhan berbau etnis terjadi di Sumbawa.

Diperbaharui 24 January 2013, 9:10 AEST

Sekitar 1800 warga saat ini (23/1) mengungsi di markas Militer dan Kepolisian setempat untuk menghindari aksi kerusuhan dan pembakaran lanjutan.

Puluhan bangunan rumah, toko, kendaraan dan tempat beribadat Pura yang berada di Sumbawa terbakar akibat dari kerusuhan massal yang melibatkan ribuan warga Sumbawa.

Lebih dari 1000 aparat Kepolisian dan Militer bersenjata dikerahkan di pusat kota Sumbawa untuk mencegah kerumunan massa dan mengantisipasi kerusuhan dan pembakaran.

Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, NTB juga meminta bantuan kepada pasukan dari Brigade Mobil Polda Jawa Timur untuk membantu mengamankan Sumbawa.

Keterangan resmi dari Polda NTB menyebutkan kerusuhan dipicu dari sebuah kejadian kecelakaan motor tunggal di pinggiran kota Sumbawa yang dikendarai seorang Polisi dan berboncengan bersama teman perempuannya (22/1).

Juru Bicara Kepolisian Daerah NTB, Sukarman Husein menjelaskan dalam peristiwa kecelakaan itu, pengendara perempuan terjatuh meninggal dunia serta menyulut aksi demonstrasi dari mahasiswa dan warga setempat yang menuntut penyelidikan serius karena ada dugaan pemerkosaan.

“Fakta kecelakaan tidak mengemuka tapi malah issu lain bahwa meninggalnya karena issu pembunuhan pemerkosaan dan kebetulan yang membonceng beragama Hindu dan yang dibonceng Islam.” ungkap Sukarman.

Massa mendatangi Kepala Kepolisian dan Bupati Sumbawa kemarin, namun karena tidak puas atas jawaban keduanya, demonstran mulai melakukan pembakaran bangunan rumah milik warga Sumbawa yang merupakan pendatang dari Bali yang dikuti oleh ribuan warga lainnya di kota Sumbawa.

Situasi baru bisa dikendalikan oleh aparat pada malam hari, namun peristiwa pembakaran dilaporkan masih terjadi tadi siang di pinggiran kota Sumbawa.

Seorang warga asli Sumbawa, Jasardi Gunawan yang dihubungi Radio Australia melalui sambungan telepon dari Jakarta menggambarkan, ribuan warga yang terlibat kerusuhan juga ada yang berasal dari warga di Kabupaten di luar Kota Sumbawa.

Warga menjarah dan membakar toko eletronik sampai menyerbu pasar. Bangunan rumah milik etnis tertentu yang sudah dalam kondisi kosong juga ikut dibakar.

“Untungnya saudara saudara kita itu sudah diungsikan ke Kompi (markas militer) oleh aparat militer,” kata Jazardi.

Dia mengungkapkan pembakaran terus meluas bukan hanya di jalan utama yang ada di pusat kota tapi juga hingga ke permukiman penduduk lainnya.

“Di dekat rumah saya ada tiga rumah yang habis terbakar hanya tinggal puing puingnya saja,” ungkapnya.

Kini Kepolisian telah menangkap dan menahan 90 orang pelaku kerusuhan setelah memeriksa mereka pasca kerusuhan.

Jubir Polda NTB, Sukarman Husein menjelaskan semua tersangka hanya ditetapkan sebagai tersangka pelaku pencurian karena menjarah.

Sore ini situasi berangsur pulih dan warga mulai berani keluar rumah kembali, tapi penjagaan terus diperketat.

Sementara sekitar 1800 warga masih mengungsi di lokasi yang dianggap aman yakni markas Militer, Kepolisian.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan Kepolisian baru saja menggelar rapat dengan tokoh adat, tokoh agama dan masyarkat serta perwakilan Pemuda.

“Semuanya sepakat untuk segera mengantisipasi dan mencegah kerusuhan,” tegas Sukarman.