Remaja Afghan diancam dibunuh karena ikut acara pencari bakat

Remaja Afghan diancam dibunuh karena ikut acara pencari bakat

Remaja Afghan diancam dibunuh karena ikut acara pencari bakat

Diperbaharui 1 February 2013, 10:34 AEST

Di Afghanistan, seorang penyanyi berusia 17 tahun mengatakan, ia mendapat ancaman akan dibunuh karena ikut berkompetisi dalam sebuah acara pencari bakat di televisi.

Latifa Azizi dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah mereka di Mazar-i-Sharif yang relatif liberal di Afghanistan utara setelah ia tampil di acara Afghan Star pada bulan November.

Komunitasnya marah karena penampilannya itu, dan mengatakan adalah tidak Islami bagi seorang wanita untuk menyanyi dan tampil di televisi.

Ia mengatakan, keluarganya mulai mendapat ancaman akan dibunuh.

Latifah, yang kini berada di ibukota Kabul bersama keluarganya, mengatakan, ia juga diganggu di sekolah.

"Sehari setelah audisi saya ditayangkan, saya pergi ke sekolah untuk ujian akhir, dan teman-teman sekelas meneriakkan cacian dan menjambak rambut saya," katanya.

"Saya lari sambil menangis. Guru-guru tidak berusaha menolong saya."

Kata Latifah, ia akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Kepala sekolah, Mohammad Kalanderi, membantah ketika dihubungi kantor berita Reuters dan mengatakan, Latifah boleh kembali kapan saja ia mau.

Latifah mengatakan, ia khawatir tentang masa depannya, tapi tidak ingin keluar dari show itu.

Bahkan di Kabul, Latifah dan satu-satunya kontestan lainnya terus-menerus mendapat ancaman akan dibunuh.

Orang menguntit mobil mereka pada waktu mereka pergi ke tempat latihan, menggangu mereka supaya tidak jadi latihan, dan mengeluarkan ancaman kekerasan lewat telepon.

'Kemunduran'

Ancaman yang dihadapi Latifah Azizi sering terjadi pada wanita Afghan yang menjadi public figure.

Artis dan penyanyi sering diganggu dan kadang dipukuli dan dibunuh.

Dalam sebuah dokumenter tentang Afghan Star, seorang kontestan terpaksa meninggalkan kota kelahirannya di Herat setelah kerudungnya melorot ke bahunya ketika sedang menyanyi.

Selama pemerintahan Taliban 1996-2001, wanita dilarang bersekolah, memberikan suara dan dilarang melakukan sebagian besar pekerjaan.