Skandal taruhan dalam pertandingan sepakbola terungkap

Skandal taruhan dalam pertandingan sepakbola terungkap

Skandal taruhan dalam pertandingan sepakbola terungkap

Diperbaharui 6 February 2013, 12:04 AEDT

Ternyata tidak selamanya ungkapan 'bola masih bundar' berlaku dalam setiap pertandingan.

Sebagaimana telah luas diberitakan, para penyelidik di Eropah mengaku telah membongkar suatu sindikat kejahatan yang canggih yang diduga telah mengatur hasil-hasil akhir dari 680 pertandingan si kulit bundar, sampai-sampai bahkan pertandingan babak penyisihan Pra-Piala Dunia dan pertandingan Piala Juara Eropah, antara tahun 2008-2011.

Kepolisian Internasional - Interpol - ikut diterjunkan bersama-sama kepolisian Eropah lainnya untuk melacak sindikat yang markas besarnya dikatakan berada di Singapura itu, dan berhasil mengungkapkan alat bukti bahwa telah terjadi pengaturan dalam sekitar 380 pertandingan di seluruh Eropah dan 300 pertandingan lainnya di luar Eropah, seperti Asia, Afrika dan bahkan Amerika Latin.

Dikatakan sekitar 425 orang pejabat persepakbolaan, pemain dan penjahat kelas berat dari 15 negara disinyalir terlibat.

Diakui bahwa besaran pengaturan yang dimaksudkan untuk menguntungkan mereka yang menyelenggarakan judi taruhan itu belum ada tolok bandingnya.

Polisi Jerman menguraikan tentang jaringan global yang melibatkan kurir yang membawa uang suap ke berbagai penjuru dunia, untuk mengimbali para pemain dan wasit yang bersedia bekerjasama.

Suap terbesar yang pernah diberikan bernilai hampir 2 miliar rupiah.

Taruhan biasanya dipasang melalui internet atau disampaikan lewat telefon ke bandar-bandar khusus di Asia, di mana taruhan yang dilarang di Eropah, bebas gentayangan di Asia.

Kini dua pertandingan babak penyisihan Pra-Piala Dunia yang dilangsungkan di Afrika dan satunya di Amerika Tengah, dicurigai telah diatur oleh sindikat tersebut.

Pertandingan-pertandingan lokal pun, seperti Piala Liga Inggris tidak luput dari terobosan sindikat ini.

Pengamat mengatakan, niscaya banyak pencandu bola yang akan sok mendengar pengungkapan ini.

Soalnya, bagaimana mengatur suatu pertandingan yang dimainkan oleh 22 orang dan dipimpin seorang wasit dan 2 hakim garis?

Kesimpulannya ialah bahwa tetap saja ada orang yang terbuka untuk disuap.