Pemuda Indonesia-Australia gelar dialog bersama

Pemuda Indonesia-Australia gelar dialog bersama

Pemuda Indonesia-Australia gelar dialog bersama

Diperbaharui 8 February 2013, 18:48 AEST

Dialog diikuti lebih dari 30 peserta dengan latar belakang berbeda dari mahasiswa sampai pelaku industri kreatif.

Dialog antar pemuda dari kedua negara ini adalah untuk yang pertama kalinya yang digelar dan digagas oleh Kementerian Luar Negeri Australia.

Dialog dilakukan di Jakarta, Jumat (08/1) diikuti sekitar 38 peserta yang pernah mengikuti program pertukaran dari berbagai organisasi seperti the Australia-Indonesia Youth Association, the Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS), Muslim Exchange Program (MEP) dan the ASEAN-Australia Emerging Leaders program (A2ELP). 

Khusus peserta dari Indonesia juga banyak yang berasal dari luar pulau Jawa, Seperti Aceh, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat.

Dialog berlangsung dengan pembagian 8 grup terdiri dari 6 sampai 7 pemuda yang membahas sejumlah persoalan dan memberikan masukan atau rekomendasi kebijakan buat Pemerintah kedua negara.

Sejumlah persoalan yang dibahas seperti sektor pendidikan, ekonomi, politik pemerintahan sampai merencanakan aksi strategis kebudayaan Indonesia dan Australia.

Para pemuda ini juga berbagi pengalamannya selama program pertukaran berlangsung.

Shannon Bergman, mahasiswa dari kota Brisbane, negara bagian Queensland, yang pernah tinggal selama dua bulan di daerah terpencil Waduk Sumo di Jogja dan Jawa Tengah, dalam program pertukaran menyatakan dialog ini bakal berguna untuk membangun persahabatan dan masa depan kedua negara.

Shannon yang mengaku baru pertama kali keluar negeri dan berkunjung ke Indonesia juga menyatakan dialog mendalam sangat diperlukan termasuk mengenalkan soal Australia termasuk mengenalkan bahasa Inggris.

“Waktu tinggal di Waduk Sumo saya sempat mengajak bergabung anak-anak di sana dalam sebuah klub berbahasa inggris dan kita bisa bernyanyi dan berbicara tentang kebudayaan yang sangat berbeda,” katanya.

Sedangkan Danis Sriwijaya asal Jogjakarta yang pernah tinggal dua bulan di Roma, sebuah desa kecil berjarak 500 kilometer dari Brisbane menceritakan pengalamannya bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat pedesaan di Australia yang ternyata punya kebiasaan tolong menolong seperti di kampung halamannya.

Dia menyatakan kalaupun ada yang perlu diperkuat dalam kerjasama antar kedua negara, Danis menyatakan soal kerjasama pertahananan dan keamanan.

“Selain itu juga perlu mempererat hubungan ekonomi dengan apresiasi terhadap ekonomi kreatif kedua negara.” kata Danis yang kini menjadi pengelola situs belanja online industri kreatif.