Hak perempuan Afghan dikuatirkan setelah ISAF ditarik

Hak perempuan Afghan dikuatirkan setelah ISAF ditarik

Hak perempuan Afghan dikuatirkan setelah ISAF ditarik

Diperbaharui 15 February 2013, 10:46 AEST

Para aktivis hak di Afghanistan kuatir kemajuan yang telah dicapai dalam hak kaum perempuan bisa pupus lagi setelah pasukan internasional ditarik tuntas tahun depan.

Sejak jatuhnya rezim Taliban karena invasi pimpinan Amerika di tahun 2001, jumloah anak perempuan yang bersekolah di Afghanistan naik menjadi 4-juta, dan 41 orang perempuan terpilih menjadi anggota majelis rendah parlemen Afghan di tahun 2010.

Akan tetapi para aktivis, termasuk direktur eksekutif Lembaga Riset Perdamaian dan Keamanan Perempuan, Wazhma Frogh, kuatir kemajuan yang telah dicapai itu akan kocar-kacir kalau pemerintah Karzai melangsungkan perundingan perdamaian dengan Taliban.

"Kalau kami tidak ikut dalam pembahasan perdamaian dan rekonsiliasi, maka apa yang telah kita lihat adalah, kalau kami tidak secara fisik berada dalam dikusi-diskusi itu untuk memperkuat dan terus mengingatkan mereka mengenai keberadaan kami dan kekuatiran-kekuatiran kami, maka kemungkinan besar akan terjadi perubahan," kata Frogh kepada Radio Australia.

Frogh saat ini berada di Canberra sebagai anggota delegasi yang melobby pemerintah Australia untuk melindungi hak-hak perempuan di Afghanistan setelah penarikan pasukan internasional.

"Kami mengimbau pemerintah Australia untuk menggunakan posisinya dalam Dewan Keamanan PBB untuk melihat konflik Afghanistan sebagai suatu dinamika regional," kata Frogh.

Audio: The Afghan delegation speaks to Girish Sawlani (ABC News)

Anggota delegasi lain yang anggota perlemen dari golongan independent, Shinkai Karokhil, mengatakan, kelompok-kelompok perempuan tidak mendapatkan komitmen politikyang  kuat dari pemerintah untuk melindungi mereka.

Karokhil juga mengatakan, pasukan lokal Afghan belum siap untuk mengambil alih tanggungjawab keamanan. 

"Kami bukannya menghendaki pasukan selamanya berada di Afghanistan," katanya.

"Tapi, bisa dikatakan sektor keamanan Afghanistan belum cukup kuat untuk mandiri melindungi perbatasan kami. Kami juga membutuhkan dukungan pasukan internasional untuk beberapa waktu ini."