Kota korban tsunami Jepang terima hadiah emas misterius

Kota korban tsunami Jepang terima hadiah emas misterius

Kota korban tsunami Jepang terima hadiah emas misterius

Diperbaharui 17 February 2013, 12:01 AEDT

Sebuah kota kecil di Jepang yang hancur oleh tsunami tahun 2011 telah mendapat kejutan menerima hadiah batangan emas.

Sebuah kota kecil di Jepang yang hancur oleh tsunami tahun 2011 telah menerima hadiah emas senilai 250-ribu dollar dari orang tak dikenal, menjelang ulangtahun yang kedua peristiwa musibah itu.

Beberapa dus batangan emas di kirim ke sejumlah perusahaan dan organisasi amal di kota Ishinomaki.
 
Perusahaan operator bandar di kota itu menerima salah satu dus berisi dua batangan emas 24 karat seberat masing-masing satu kilogram.
 
"Karena diluar dus disebutkan sebagai 'barang serbaneka', saya membukanya biasa-biasa saja karena mengira itu pasti buku atau sebangsanya karena berat," kata Kunio Sunow, presiden direktur Pasar Ikan Ishinomaki.
 
"Saya kaget karena isinya dua batang emas 24 karat. Satu dibungkus kertas berwarna coklat, satu lagi dibungkus lembaran halaman majalah," tuturnya kepada AFP.
 
Kiriman itu dipos tanpa nama pengirim dari kota Nagano, di sebelah baratlaut Tokyo, dan tidak disertai pesan apapun.
 
Media setempat melaporkan, sebuah organisasi amal yang membantu pemulihan akibat tsunami di Ishinomaki juga menerima dua kilogram batang emas, dan paling tidak satu kelompok lain menerima satu kilo emas.
 
Kota Ishinomaki, yang letaknya sekitar 350 kilometer sebelah baratlaut Tokyo, hancur oleh gempa 9 Skala Richter dan tsunami hebat yang ditimbulkannya pada tanggal 11 Maret 2011.
 
Musibah itu menewaskan hampir 19-ribu orang, lebih dari 3-ribu diantaranya warga Ishinomaki, dan memicu kecelakaan nuklir terburuk yang dihadapi dunia dalam satu generasi.
 
Para penerima hadiah emas tadi mengatakan gembira bahwa mereka belum dilupakan.
 
"Senang mengetahui bahwa kami belum dilupakan," kata Sunow, sambil menambahkan bahwa ia belum memutuskan bagaimana akan menggunakan hadiah itu.
 

AFP