Belasan tewas akibat banjir longsor di Sulawesi Utara

Belasan tewas akibat banjir longsor di Sulawesi Utara

Belasan tewas akibat banjir longsor di Sulawesi Utara

Diperbaharui 18 February 2013, 16:19 AEST

Korban meninggal akibat bencana banjir dan longsor hingga saat ini (18/2) tersebar di 7 Kecamatan di  Manado 10 orang  dan Minahasa 4 orang, sementara lebih dari seribu orang mengungsi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, BPBD Sulawesi Utara, Hoyke Makarawung, yang dihubungi Radio Australia, memperkirakan jumlah pengungsi bisa mencapai 1700 orang yang berasal dari sebagian Kecamatan terdampak bencana banjir longsor.

Banjir longsor disebabkan meluapnya aliran air sungai serta menyusul hujan yang tak henti selama dua hari terakhir. Sedangkan longsor juga sempat menutup jalur utama dari Manado ke Minahasa.

Pemerintah Daerah setempat dan BPBD Sulawesi Utara baru mendirikan posko di rumah-rumah ibadah, namun menurut BPBD posko yang ada belum bisa menampung seluruh pengungsi.

Kendati demikian Hoyke menjelaskan kebutuhan makanan instant dan siap saji serta bantuan lainnya seperti selimut telah berdatangan untuk didistribusikan.

BPBD juga meminta bantuan kepada aparat Pemerintah, termasuk Polisi dan MIliter.

“Jadi melibatkan TNI Polri dan petugas Dinas Kesehatan, Tim SAR dan relawan palang merah di bawah koordinasi kami,” kata Hoyke

Seorang relawan, Alvine Ratag menyampaikan banjir di sejumlah tempat memang sudah surut, tapi masih banyak juga daerah yang masih terendam banjir hingga satu meteran.

“Air sudah mulai surut, ada beberapa daerah di Wuwunasa  belum seratus persen surut. Ada masih setengah badan rumah kali,”

Sebelumnya banjir di  Manado ketinggian airnya bisa mencapai lebih dari dua meter. Untuk di sebagian lokasi bahkan ketinggian air bisa mencapai atap rumah seperti gambar yang diambil oleh salah seorang warga di Manado kepada Radio Australia.

Banjir juga merendam permukiman mewah Citraland di Minahasa yang mengakibatkan satu keluarga meninggal dunia.