Puluhan tewas dalam tragedi pencari suaka muslim Birma

Puluhan tewas dalam tragedi pencari suaka muslim Birma

Puluhan tewas dalam tragedi pencari suaka muslim Birma

Diperbaharui 21 February 2013, 17:28 AEDT

Pemerintah berkuasa Australia mendorong oposisi untuk mempertimbangkan kembali ketidak setujuan mereka atas 'Solusi Malaysia' setelah muncul laporan tewasnya 98 pencari suaka di wilayah laut Sri Lanka.

Menteri Imigrasi Australia, Brendan O'Conner, mendorong Koalisi yang menduduki oposisi untuk mempertimbangkan 'Solusi Malaysia' itu setelah puluhan pencari suaka tersebut tenggelam dalam usaha mereka mencapai Indonesia atau Australia.

Polisi Sri Lanka mengatakan pencari suaka dari Birma yang diselamatkan dari sebuah kapal yang hampir tenggelam menyaksikan 98 orang tewas karena kelaparan dan kehausan setelah dua bulan terombang-ambing di tengah laut karena mesin kapal yang mereka tumpangi rusak.

Mereka yang selamat mengatakan jenazah pencari suaka yang tewas dilempar ke dalam laut.

32 orang yang selamat -31 lelaki dewasa dan satu orang anak laki-laki, akhirnya diselamatkan dari kapal rusah tersebut yang hampir tenggelam 250 kilometer dari pesisir pantai Sri Lanka tenggara.

Brendan O'Connor mengatakan dia sedang menunggu hasil laporan tentang apa yang terjadi, dan menambahkan pentingnya memberlakukan rekomendasi dari panel ahli mengenai pencari suaka.

"Kita perlu berbagai macam inisiatif untuk menghentikan tragedi seperti ini sampai terjadi lagi," kata Brendan O'Connor dalam wawancara dengen radio Fairfax di Australia.

"Saya pikir sudah saatnya untuk...pihak Oposisi mempertimbangkan ulang keberatan mereka atas beberapa rekomendasi yang telah dibuat karena saya pikir kita perlu menghapus politik dari isu ini dan fokus ke apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah kematian di laut seperti ini."

Panel ahli yang dirujuk oleh Menteri Imigrasi Australia tersebut memberi rekomendasi kepada pemerintah Australia untuk melakukan perjanjian dengan Malaysia, selain mengatakan pentingnya perlindungan yang lebih baik di dalam perjanjian tersebut. 

Koalisi partai yang merupakan pihak oposisi di Australia mempertahankan posisinya, dengan alasan kekhawatiran atas kemugnkinan perlakuan buruk atas pencari suaka di Malaysia.
 
Rekomendasi para ahli tersebut, menurut juru bicara bidang imigrasi dari pihak oposisi, Scott Morrison, "Diberi lampu merah oleh mereka sendiri, karena tidak adanya perlindungan yang cukup dan pemerintah berkuasa tidak berbuat apa pun untuk mengubah perjanjian tersebut bahkan satu kata atau satu kalimat sejak laporan ahli itu diberikan," katanya.

"Jadi, sebelum Brendan O'Connor mulai menyalahkan pihak lain, sebaiknya dia melihat tidak adanya tindakan dari pihaknya sendiri di mana mereka telah gagal untuk bergerak satu inci sekalipun."

Dalam kasus terpisah, kemarin, pihak berwajib Australia menyelamatkan sekelompok pencari suaka dari tengah laut setelah kapal mereka tenggelam dalam perjalanan ke Pulau Natal.

Menteri Dalam Negeri Australia, Jason Clare, mengatakan kapal tersebut, yang membawa 88 pencari suaka dan tiga kru kapal, mengirimkan sinyal gawat darurat awal minggu ini. 

Sebuah kapal dagang kemudian memberi respons atas sinyal tersebut, sampai kapal Angkatan Laut Australia, HMAS Paramatta, tiba di lokasi.

Kapal tersebut kemudian memonitor perjalanan kapal pencari suaka itu dalam usaha mereka mencapai Pulau Natal, sampai kemudian terpaksa mengangkut para pencari suaka tersebut karena tidak yakin atas kelayakan kapal.

Menurut juru bicara kepolisian Sri Lanka, mereka yang selamat dari tragedi kapal minggu ini mengidentifikasi diri mereka sebagai kaum Muslim dari desa di perbatasan antara Birma dengan Bangladesh.

"Mereka mengatakan membawa makanan dan minuman hanya untuk satu bukan dan berada di laut selama dua bulan setelah mesin kapal rusak," kata juru bicara kepolisian Sri Lanka Prishantha Jayakody. 

"Kapten mereka dan 97 orang lainnya tewas karena dehidrasi dan kelaparan. Jenazah mereka yang tewas dikatakan telah dilempar ke dalam laut."

Menurutnya, mereka yang selamat mengatakan berusaha mencari suaka di Indonesia dan Australia.