Penemuan 'es api' kunci masa depan energi Jepang

Penemuan 'es api' kunci masa depan energi Jepang

Penemuan 'es api' kunci masa depan energi Jepang

Terbit 13 March 2013, 8:00 AEDT

Jepang mengumumkan berhasil melakukan ekstraksi metana hidrat, yang diketahui sebagai 'es api', dari dasar laut. Langkah ini berpotensi menjadi kunci sumber energi gas bagi negara tersebut.

Sebuah konsorsium di Jepang melakukan pemboran hidrat, sumber energi yang tampak seperti es tapi sangat padat dengan metana yang dikelilingi oleh molekul air, satu kilometer di bawah permukaan laut. Konsorsium tersebut mengklaim keberhasilan ini sebagai yang pertama kali di dunia. 

Zat berwarna putih tersebut bisa menghasilkan api yang pucat dan hanya meninggalkan air setelah habis terbakar.

Satu meter kubik zat itu diperkirakan mempunyai metana dalam bentuk gas yang jumlahnya merupakan lipat ganda ukuran tersebut.

Menurut seorang pejabat dari kementerian ekonomi, perdagangan dan industri Jepang, Konsorsium yang diketuai oleh perusahaan minyak, gas dan metal nasional Jepang tersebut memulai perencanaan pemboran sejak Februari tahun lalu, dan pada hari Selasa memulai eksperimen produksi selama dua minggu.  

"Ini adalah eksperimen lepas pantai pertama di dunia untuk menghasilkan gas dari metana hidrat," kata pejabat tersebut, yang juga mengatakan tim pembor berhasil melakukan ekstraksi gas metana dari zat yang setengah beku tersebut. 

Dalam proyek yang dipimpin oleh pemerintah Jepang itu, konsorsium yang terlibat akan memisahkan metana -yang merupakan komponen utama gas alami, dari senyawa klatrat di dasar laut dengan menggunakan tekanan tinggi yang dihasilkan begitu dalam di laut.

Pejabat di Jepang mengatakan lapisan metana hidrat yang sangat besar dan diperkirakan mengandung 1.1 triliun meter kubik gas alami -yang setara dengan konsumsi gas di Jepang selama 11 tahun, dipercayai berada di dasar laut di dekat pulau Shikoku, Jepang bagian barat.

"Kami bertujuan mendirikan produksi hidrat untuk keperluan praktis pada tahun keuangan 2018," kata salah seorang pejabat konsorsium.

Langkah ini terjadi sementara Jepang, yang miskin sumber daya alam, mencari sumber energi baru setelah melakukan penutupan reaktor nuklir setelah apa yang terjadi pada tahun 2011, di mana reaktor nuklir Fukushima yang dihantam tsunami menyebabkan kerusakan dan krisis nuklir.

Saat ini, hanya dua dari 50 reaktor nuklir di negara tersebut yang berfungsi, itu pun dengan standard keamanan dan kekhawatiran politik yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Ini menyebabkan peningkatan harga energi di Jepang, yang terpaksa membeli sumber energi alternatif yang lebih mahal.

Pertikaian perbatasan di wilayah Asia kini sering melibatkan kepemilikan sumber energi.

Pembicaraan antara Jepang dan Cina atas ladang gas di Laut Cina Timur masih tertahan di tengah-tengah perselisihan diplomatik. 

AFP