Polisi Australia dakwa 21 terkait jaringan pelecehan anak online

Polisi Australia dakwa 21 terkait jaringan pelecehan anak online

Polisi Australia dakwa 21 terkait jaringan pelecehan anak online

Diperbaharui 15 March 2013, 15:10 AEST

Polisi Federal Australia memeriksa puluhan hard drive komputer untuk mencari bukti setelah membekuk salah satu jaringan pornografi anak terbesar di Australia.

Polisi Federal Australia (AFP) mengatakan telah membekuk suatu jaringan pemangsa anak online, dan mengenakan dakwaam terhadap 21 orang di Australia minggu ini. 

AFP memulai Operation Conqueror dalam bulan Januari, mengusut distribusi dan sharing foto-foto pelecehan anak di internet.

Polisi melaksanakan 36 perintah pencarian di setiap negarabagian dan wilayah di Australia minggu ini dalam operasi itu, dan menahan serta mendakwa 21 orang. 

Dikatakan, diperkirakan akan ditahan lagi 6 lainnya.

Para tertuduh berusia antara 22 dan 76 tahun.

Koordinator operasi perlindungan anak AFP, Detective Superintendent Todd Hunter, mengatakan, di satu rumah polisi menemukan 26 hard drive yang katanya sedang dianalisa. 

"Ada 26 hard drive berbagai ukuran, dengan data mulai dari 500 gigabytes sampai 2 terabytes per hard drive," katanya.

"Jadi jumlah gambar maupun video dari bahan yang mengeksploitasi anak di sini luar biasa banyaknya."

Manajer operasi kejahatan cyber AFP, Glen McEwen, mengatakan, " Kalau melihat operasi-operasi sebelumnya mengenai kegiatan serupa, ini merupakan salah satu yang paling besar." 

McEwen memuji kerjasama antara sejumlah lembaga dalam menghasilkan penangkapan ini.

"Perlindungan anak-anak kita sangatlah penting dan tidak bisa terlaksana tanpa bantuan dari mitra-mitra di lingkungan penegakan hukum, pemerintah, badan-badan non pemerintah, akademia dan masyarakat," katanya.

Kata McEwen, walaupun teknologi terus berkembang sehingga memungkinkan para penjahat mengubah teknik mereka, cuma persoalan waktu untuk menangkap para pemangsa online itu.

Walaupun teknologi berubah demikian cepat seperti sekarang ini, "demikian juga tools yang tersedia bagi penegak hukum untuk mendeteksi kegiatan seperti itu," katanya.

"Operasi ini menunjukkan bahwa internet bukannya anonim dan kalau orang terlibat atau melakukan pendekatan ke anak untuk dijadikan mangsa, atau terlibat dalam produksi, distribusi atau mengakses pelecehan anak di online, ia akan dikejar."

Kata McEwen, sharing foto-foto pelecehan anak di online juga sama seriusnya dengan melakukan pelecehan itu sendiri.