Gambar satelit tunjukkan kehancuran di Myanmar

Gambar satelit tunjukkan kehancuran di Myanmar

Gambar satelit tunjukkan kehancuran di Myanmar

Diperbaharui 2 April 2013, 11:48 AEDT

Gambar-garmbar satelit baru memperlihatkan kerusakan yang ditimbulkan kekerasan antar golongan di Myanmar tengah bulan lalu. 

Organisasi hak asasi manusia, Human Rights Watch, telah menyiarkan gambar satelit yang menunjukkan kerusakan yang ditimbulkan kekerasan antar-golongan di Myanmar tengah bulan lalu.

Dikatakan, gambar-gambar itu menunjukkan lebih dari 800 bangunan hancur di kota Meiktila.
 
Human Rights Watch mengimbau Myanmar agar mengusut kegagalan polisi untuk menghentikan gelombang pembunuhan dan pembakaran dalam kerusuhan antar golongan Buddha dan Islam itu.
 
Direktur organisasi itu untuk Asia, Brad Adams, mengatakan : "The government should investigate responsibility for the violence in Meiktila and the failure of the police to stop wanton killings and the burning of entire neighbourhoods," he said.
 
Menurut media pemerintah, kerusuhan bulan lalu, yang kemudian menjalar ke beberapa kota lain, telah mengakibatkan 43 orang tewas dan lebih dari 1300 rumah dan bangunan lainnya hancur.
 
PBB mengatakan, sekitar 12-ribu orang terpaksa menyingkir akibat kerusuhan itu.
 
Menurut deputi direktur Human Rights Watch untuk Asia, Phil Robertson, daerah yang paling parah terkena di Meiktila diyakini sebagai daerah pemukiman banyak warga Muslim.
 
Katanya, kekerasan "dibiarkan berlangsung berhari-hari". 
 
"Kita mendapat banyak informasi dan laporan bahwa pada hakekatnya polisi membiarkan itu terus terjadi dan tidak turun tangan," kata Robertson.
 
Menurut Human Rights Watch, kerusakan itu mirip dengan dalam kerusuhan antar golongan di Myanmar barat tahun lalu yang menewaskan paling tidak 180 orang dan mengakibatkan daerah pemukiman yang besar habis terbakar.
 
Keadaan tampaknya sudah tenang sejak Presiden Thein Sein pada hari Kamisi berjanji akan menindak tegas mereka yang berada di balik kerusuhan, yang ditudingnya sebagai "oportunis politik dan ekstremis agama".
 
Dalam pidato yang disiarkan radio pada hari Minggu, Presiden Thein Sein mengimbau kalangan biksu Buddha agar "membantu pemerintah dalam mewujudhkan perdamaian dan stabilitas".

AFP