Ketegangan di semenanjung Korea dikuatirkan cetuskan perang

Ketegangan di semenanjung Korea dikuatirkan cetuskan perang

Ketegangan di semenanjung Korea dikuatirkan cetuskan perang

Diperbaharui 5 April 2013, 18:14 AEDT

Sekjen PBB, Ban Ki-moon, mengatakan, retorika agresif dan unjuk kekuatan militer belakangan ini di Semenanjung Korea bisa menimbulkan perang.

Sekjen PBB yang mantan Menlu Korea Selatan itu menanggapi kabar bahwa Korea Utara berniat mengaktifkan lagi fasilitas nuklir utamanya, di tengah ancaman baru-baru ini untuk menyerang sasaran-sasaran asing.
 
Korea Utara mengumumkan akan menghidupkan lagi semua fasilitas di kompleks nuklir Yongbyon, termasuk suatu reaktor yang ditutup di tahun 2007, mengisyaratkan negara itu juga akan terang-terangan memperkaya uranium kelas senjata.
 
Amerika mengirim kapal penghancur rudal yang kedua ke kawasan itu sebagai respons atas ancaman tadi, dan mengimbau Russia dan Cina agar berbuat lebih banyak untuk mengendalikan Pyongyang.
 
Akan tetapi Ban Ki-moon mengatakan perlu segera diadakan perundingan dan dialog.
 
Kata Sekjen PBB itu, krisis sekarang ini sudah terlalu jauh, dan retorika agresif serta unjuk kekuatan militer hanya akan menghasilkan tindakan balasan, dan menimbulkan ketakutan dan ketidak stabilan. 
 
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, dalam suatu pidato di Washington, melukiskan tindakan Korea Utara itu sangat mengkhawatirkan.
 
Katanya, Cina, negara yang secara tradisi adalah sekutu Korea Utara, semakin sering mengeritik Korea Utara, yang tentunya akan membantu mengendalikan Korea Utara.
 
Kata Rudd, Australia seyogyanya mendesak agar dilangsungkan pembicaraan antara Cina dan Amerika untuk membahas ketegangan di semenanjung Korea.
 
"Ini adalah soal bekerjasama dengan Washington dan Beijing untuk memastikan tidak terjadi cetusan yang mengganggu perdamaian dan stabilitas di wilayah Asia yang lebih luas, yang berarti kepentingan Australia juga."
 

ABC/wires