Gedung ambruk di Bangladesh, lebih 100 tewas

Gedung ambruk di Bangladesh, lebih 100 tewas

Gedung ambruk di Bangladesh, lebih 100 tewas

Diperbaharui 25 April 2013, 9:52 AEST

Sebuah gedung berlantai delapan yang digunakan untuk pabrik dan mall telah ambruk di Bangladesh, menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai paling tidak 700.

Angka kematian dalam tragedi di ibukota Dhaka itu telah meningkat menjadi lebih dari 100, tapi dikhawatirkan banyak yang masih terperangkap dibawah reruntuhan.

Sepanjang malam para petugas pertolongan mencari para korban yang terperangkap dibawah reruntuhan ketika gedung itu ambruk.

Hanya lantai dasar dari Rana Plaza di kota Savar di pinggiran Dhaka - yang digunakan oleh sejumlah bisnis termasuk sebuah pabrik garmen - yang masih utuh setelah gedung itu ambruk sekitar pukul 9 pagi pada hari Rabu.

Diperkirakan sampai sebanyak 2000 orang mungkin berada di dalam ketika gedung itu runtuh.

Ratusan orang berhasil menyelamatkan diri, tapi sudah ditemukan mayat puluhan orang yang tidak berhasil keluar menyelamatkan diri.

Wakil kepala polisi Dhaka, A B M Masud Hossain, yang  bertugas mengidentifikasi mayat dan memulangkannya kepada pihak keluarga, mengatakan,127 orang tewas "sebagian besar wanita".

Hiralal Roy, dokter senior di rumah sakit Enam, sebelumnya mengatakan, paling sedikit 700 orang yang cedera telah dirawat di rumah sakit itu.

"Angka kematian akan meningkat karena kondisi sebagian korban sangat serius," katanya.

Sebagian pekerja melaporkan terlihat retak-retak di gedung itu pada Selasa malam, sehingga dilakukan ecakuasi, tapi mereka dipaksa kembali untuk bekerja oleh para manager.

Menteri Dalam Negeri Muhiuddin Khan mengatakan kepada wartawan, gedung itu ilegal dan melanggar peraturan bangunan.

Perdana Menteri Sheikh Hasina telah mengumumkan hari berkabung nasional pada hari Kamis dengan pengibaran bendera setengah tiang untuk mengenang para korban.
 

 

Angka kematian yang tinggi mungkin akan menimbulkan pertanyaan lagi tentang safety dalam industri garmen.

Bangladesh mempunyai industri pakaian terbesar kedua di dunia, memasok merek-merek terkenal di negara-negara Barat, tapi sering dirundung kecelakaan dan demonstrasi buruh yang menuntut upah dan kondisi kerja yang lebih baik.

Pada bulan November, kebakaran di pabrik Tazreen Fashion di pinggiran Dhaka menewaskan 112 orang.

Edward Hertzman, seorang broker tekstil yang berbasis di New York, yang kliennya antara lain pabrik-pabrik pakaian dan retailer seperti PacSun, Oxford Industries dan Fisham-Tobin, mengatakan, tekanan dari retailer Amerika untuk menekan biaya menyebabkan kondisi yang tidak safe.

Menyusul kebakaran Tazreen, retailer raksasa Amerika Wal-Mart Stores Inc mengatakan akan mengambil langkah-langkah untuk meredakan keprihatinan tentang safety, sementara Gap Inc mengumumkan sebuah program four-step fire-safety.

"Diperlukan tindakan lebih jauh bukan hanya sekedar mengeluarkan press release atau membayar kompensasi kepada korban," kata Hertzman.

"Retailer harus berhenti menekan pabrik-pabrik dann mulai membayar harga yang lebih tinggi."

"Itu akan memungkinkan pabrik-pabrik menaikkan upah dan standar."

Wal-Mart mengatakan masih belum dapat memastikan apakah sebuah pabrik di gedung yang ambruk itu memproduksi barang-barang untuk Wal-Mart.

Baik label fashion Mango dari Spanyol maupun Benetton dari Italia, yang sebelumnya berkaitan dengan pabrik itu, membantah mempunyai supplier disana.

Tessel Pauli, jurubicara Clean Clothes Campaign yang berbasis di Amsterdam, mengatakan, musibah itu menunjukkan masalah-masalah di Bangladesh dimana pembeli asing seringkali tidak menghiraukan safety demi mengejar keuntungan yang besar.

"Mereka tahu apa yang perlu dilakukan tapi tidak melakukannya."

Bangunan ambruk sering terjadi di Bangladesh karena para kontraktor tidak menghiraukan peraturan bangunan pada waktu mendirikan gedung tinggi.

 

Survivors rescued after Bangladesh building collapse Photo: A Bangladeshi firefighter carries an injured garment worker after the collapse (AFP: Munir uz Zaman)