Pemilu Malaysia: Barisan Nasional berusaha pertahankan posisi kunci

Pemilu Malaysia: Barisan Nasional berusaha pertahankan posisi kunci

Pemilu Malaysia: Barisan Nasional berusaha pertahankan posisi kunci

Diperbaharui 30 April 2013, 15:21 AEST

Negara bagian Sabah dan Sarawak terkenal akan keindahan alami hutan hujan dan juga penangkaran orangutan. Tapi, menghadapi pemilu tanggal 5 Mei mendatang, dua negara bagian ini juga memegang kunci masa depan politik Malaysia.

Pihak oposisi di Malaysia kini berusaha untuk merebut simpati penduduk asli di Sarawak untuk merenggut kekuasaan dari pihak pemerintah berkuasa.

Ketika Malaysia menjadi negara federasi pada tahun 1963, dua negara bagian ini ditawarkan kursi parlemen nasional yang lebih banyak daripada negara bagian lainnya untuk memikat mereka bergabung, dan ini berarti mereka bisa menentukan siapa pemenang pemilu berikut.

Dr Jenri Amir, dari University of Malaysia, mengatakan ada 31 kursi yang diperebutkan di Sarawak.

"Sangat penting bagi Perdana Menteri (Najib Razak) untuk memastikan mereka memenangkan lebih dari 20 kursi di Sarawak, untuk memastikan mereka bisa memenangkan Pemerintahan Federal," katanya.

Kursi-kursi ini, dalam sejarah Malaysia, biasanya didapatkan oleh koalisi berkuasa -Barisan Nasional. 

Suara Penduduk Asli

Untuk merenggut kekuasaan dari Barisan Nasional, pihak oposisi percaya suku tradisional Iban adalah sumber suara yang bisa berpengaruh.

Kandidat-kandidat dari oposisi telah melakukan kampanye besar untuk mendapatkan suara dari penduduk suku Iban, dan menurut Dr Jenri Amir, mereka mungkin telah berhasil mendapatkan kepercayaan suku Iban.

Dalam tradisi suku Iban, semua orang dalam satu desa hidup di dalam satu rumah panjang, dan ada sekitar 5,000 rumah panjang di negara bagian Sarawak.

"Saya pikir isu terpenting bagi pemilih dari suku Iban adalah tanah ulayat (NCR Land - Native Customary Rights) ," kata Dr Jenri Amir.

"Pemerintah tidak memberi hak ulayat atas tanah mereka, dan kebanyakan dari tanah tersebut diberikan ke perusahaan yang berhubungan dengan Menteri Kepala di Sarawak."

Menteri Kepala tersebut, Taib Mahmud, adalah anggota koalisi Barisan Nasional dan telah memegang posisi tersebut sejak tahun 1981.

Baru-baru ini, rekaman video yang menunjukkan saudara dan rekan bisnis Taib Mahmud berusaha mengatur perjanjian pembelian tanah secara ilegal untuk keuntungan pribadi beredar di tengah-tengah masyarakat Malaysia.

Taib Mahmud menampik keterlibatan dalam kasus tersebut.

"Mereka berusaha memfitnah saya dengan bukti yang bisa ditafsirkan oleh siapa pun," katanya mengenai video tersebut.

Walaupun dia telah menampik tuduhan tersebut, reputasi koalisi Barisan Nasional telah ternodai.

Tapi tidak jelas apa pengaruh video ini bagi pemilih dari suku tradisional Iban. Para tokoh pemimpin suku ini menolak berbicara di depan kamera, dan gaya hidup mereka yang terpencil berarti banyak anggota suku Iban yang belum pernah melihat atau mendengar tentang video tersebut. 

Medan Perang Sabah.

Kalau di bagian Barat wilayah Malaysia di Pulau Kalimantan pihak oposisi berusaha meraih simpati penduduk Iban, mereka harus bekerja sangat keras untuk bisa memenangkan negara bagian Sabah yang terletak di bagian Timur.

Sabah memiliki 25 kursi parlemen nasional dan dalam pemilihan terakhir, koalisi berkuasa memenangkan 24 di antaranya.

Seorang analis politik dari Sabah, Arnold Puyok, mengatakan Sabah juga merupakan 'kingmaker'.

"Sabah dikatakan sebagai negara bagian penentu kali ini karena [Barisan Nasional] ingin mempertahankan jumlah kursi yang mereka dapatkan pada tahun 2008," katanya.

Untuk mempertahankan jumlah kursi tersebut, para kandidat Barisan Nasional meningkatkan aliran pendanaan ke dalam kampanye mereka -tapi uang tidak selalu berbicara di sini.

Imigrasi dan isu perbatasan adalah beberapa isu utama. 

Bentrokan berdarah

Selama puluhan tahun, ribuan Muslim dari Filipina dan Indonesia telah memasuki Sabah dan mengubah warna agama, ekonomi, dan menyebabkan perubahan dalam keseimbangan politik lokal.

Tahun lalu, Pemerintah Malaysia setuju untuk membuat Komisi Kerajaan yang akan secara khusus melihat masalah imigrasi tersebut.

Tapi isu pekerja asing dan imigran gelap ini memanas setelah 200 lelaki dari Filipina Selatan mendarat di pesisir timur Sabah dan mengklaim kepemilikan atas wilayah tersebut.

"Serangan Sulu" ini berakhir dengan konflik bersenjata di mana 60 pemberontak dan 10 petugas keamanan Malaysia tewas.

Ini adalah kejadian yang menggoncang negara bagian ini, tapi hanya waktu yang akan memberi jawaban apakah ini akan menyebabkan pergantian kekuasaan setelah pemilihan suara hari Minggu ini.