Jembatan Bacem: Cerita Penyintas Tragedi 1965

Jembatan Bacem: Cerita Penyintas Tragedi 1965

Jembatan Bacem: Cerita Penyintas Tragedi 1965

Diperbaharui 3 May 2013, 11:07 AEST

Flim dokumenter independen terbaru pasca tragedi 1965 dirilis.

Film berjudul  'Jembatan Bacem’ yang diproduksi Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Elsam, bercerita dari sudut pandang para penyintas atau orang yang pernah selamat dari peristiwa penghilangan paksa serta pembataian periode itu.

Dokumenter berjudul Jembatan Bacem yang berdurasi setengah jam, diawali dengan sketsa gambar sungai yang dipenuhi mayat dan diiringi sebuah lagu berbahasa Jawa bercerita tentang penghilangan paksa sebagai tumbal kesejahteraan negeri.

Sketsa selanjutnya mengambil setting awal situasi di Solo, Jawa Tengah pasca peristiwa 30 September 1965  dan penangkapan bagi mereka yang dituduh Komunis.

Dokumenter ‘Jembatan Bacem’ diambil dari ingatan kolektif warga dan legenda dimana sering disebut  jembatan yang menghubungkan Solo dengan Wonogiri menjadi situs pembunuhan.

Materi film, padat dengan data sejarah terkait tempat-tempat ribuan orang kala itu ditahan.

Tapi terpenting adalah pengakuan orang yang pernah membantu pelaku yang mirip dengan militer dan seorang penyintas atau orang yang pernah selamat dari tragedi pembantaian.

Salah seorang diantaranya Barjo, kini menetap di Purwodadi

Barjo  selamat menceburkan diri dari upaya penghilangan paksa dengan cara ditembak di Jembatan Bacem. Dia juga bercerita soal bagaimana para korban dipaksa berjejer dan ditembak satu per satu dalam kondisi terikat.

Beruntung saat menceburkan diri, tali yang mengikat badannya tak begitu kuat hingga dia selamat.

Mereka yang ditembak berasal dari berbagai tempat penahan di Solo.

Penghilangan terencana

Dokumenter film terkait tragedi 1965 Jembatan Bacem ini bukan flim pertama yang bercerita soal pembantaian. Sebelum ada flim berjudul The Act Of Killing dari sudut pandang para Jagal.

Sementara flim Jembatan Bacem dari pengakuan para penyintas tanpa ada wawancara dari militer yang digambarkan sebagai pelaku

Sutradara Flim Yayan Wiludiharto menjelaskan flimnya hendak menyampaikan soal bagaimana pembunuhan terhjadi secara terencana dan sistematis.

“Di film ini saya ingin menggambarkan soal metode penhilangan paksa, dari satu tempat.... diambil untuk dieksekusi sangat terorganisir dan birokratis” kata Yayan.

Bagian tersulit pembuatan dokumenter ini adalah menemukan penyintas seperti Barjo yang ingat detil peristiwa.

“Susahnya menemukan mereka padahal saya memulai wawancara sejak 2007 tapi baru dapat orang seperti Barjo pada 2012,” ungkapnya.

Peneliti Sejarah dari Institut Sejarah Sosial Indonesia, Hilmar Farid mengungkapkan, film ini membawa data baru untuk memastikan situs lokasi penghilangan paksa di Solo dan membuktikan ingatan kolektif, termasuk jumlah 71 korban dari ribuan korban yang sempat ditahan.

Dan yang pasti menambah pengetahuan arsip sejarah yang selama ini susah diakses.

“Memang untuk peristiwa pembunuhan massal dan operasi militer tahun 1965 masih terbatas, kalau pun datanya ada tapi kita masih kesulitan untuk mengakses,” kata Hilmar.

Dia juga menambahkan perlunya penggalian fakta-fakta sejarah lainnya seputar pasca tragedi 1965 untuk memperkuat bahwa ada keterlibatan negara dalam penghilangan paksa.