Kekejaman terhadap ternak di RPH Mesir terungkap

Kekejaman terhadap ternak di RPH Mesir terungkap

Kekejaman terhadap ternak di RPH Mesir terungkap

Diperbaharui 7 May 2013, 8:22 AEST

Rekaman yang diperoleh ABC yang menunjukkan seekor sapi jantan Australia berulang-kali ditikam sebelum mati bersimbah darah di sebuah rumah pemotongan hewan Mesir telah memicu seruan lagi untuk melarang eskpor ternak.

Program 7.30 ABC menayangkan rekaman mengerikan tentang ternak Australia yang diperlakukan kejam di Mesir, yang menyebabkan dihentikannya ekspor ternak ke negara itu.

Rekaman tersebut, yang dibuat oleh beberapa pekerja dan diserahkan kepada organisasi kesejahteraan binatang, Animals Australia, oleh seorang dokter hewan Mesir, tersiar dua tahun setelah bukti kekejaman binatang mengakibatkan dihentikannya ekspor ternak ke Indonesia.

Mesir telah berjanji akan menginvestigasi rekaman tersebut, yang menyebabkan penghentian sukarela ekspor ternak dan mencetuskan seruan bagi ditingkatkannya pengawasan proses pembantaian.

Dalam rekaman itu, yang dibuat pada bulan Oktober, seekor sapi jantan Australia nampaknya sudah patah kakinya setelah lari dari ruang pembantaian ke sebuah kandang.

Seorang pekerja mengitarinya dengan sebuah pisau dan berulang-kali mekiman sapi jantan itu, menyerang ototnya dan mukanya.

Darah terlihat keluar dari mata binatang itu.

Seorang pembeli sudah menunggu sapi itu dibunuh.

Proses penyiksaan itu berlangsung selama lima menit, sampai pada akhirnya sapi jantan itu ambruk bersimbah darah.

Direktur kampanye Animal Australia, Lyn White, mengatakan, rekaman itu mengerikan.

Adegan lain, juga direkam pada bulan Oktober oleh para pekerja di sebuah rumah pemotongan hewan yang disetujui Australia di Sokhna, menunjukkan binatang-binatang di sebuah kandang yang terbalik sehingga lehernya terjepit.

Dalam rekaman itu, seekor binatang dipotong kehernya dengan cara yang tidak benar.

Setelah diangkat ke udara dan disiram, binatang itu kemudian lepas dan masih berjalan, lehernya ternganga, sampai akhirnya disembelih.

Confidence in system

 

Partai Hijau menyerukan agar ekspor ternak dilarang menyusul rekaman tersebut.

Menteri Pertanian Joe Ludwig melukiskan rekaman dari Mesir itu sebagai "memuakkan", tapi mengatakan, ini adalah kasus tersendiri.

Dikatanyannya, ia percaya "99.9 persen" bahwa ternak Australia tidak akan diperlakukan kejam dalam perjalanan ke RPH di negara-negara lain berkat adanya Exporter Supply Chain Assurance System (ESCAS).

ESCAS dibentuk oleh Departemen Pertanian, Perikanan dan Kehutanan menyusul dihentikannya sementara perdagangan ekspor ternak ke Indonesia di tahun 2011.

Menteri Ludwig mengatakan, Departemennya sedang menginvestigasi rekaman itu.

'Mengirim pesan'

Rekaman itu diberikan kepada Animals Australia oleh dokter hewan Mesir, Dr Mahmoud Abdelwahab, yang berbicara kepada 7.30.

Ia mengatakan, ia ingin memberi tekanan kepada pemerintah Mesir dengan rekaman itu.

"Saya ingin mengirim pesan kepada seluruh dunia, maka saya menghubungi Animals Australia dan membuat rekaman itu dan menunjukkan kepada dunia internasional dan menekan pemerintah kami untuk memperbaiki rumah-rumah pemotongan hewan, untuk menghukum orang-orang yang melakukan kekejaman," katanya.

Dikatakannya, membunuh binatang dengan cara seperti dalam rekaman itu bertentangan dengan Islam.

Industri ternak secara suka rela menghentikan ekspor ternak ke Mesir pada hari Sabtu sebagai respon atas rekaman itu.