Harapan Perempuan Indonesia untuk Putri Mereka

Harapan Perempuan Indonesia untuk Putri Mereka

Harapan Perempuan Indonesia untuk Putri Mereka

Terbit 12 March 2014, 10:45 AEDT

Sejumlah perempuan di Indonesia berharap anak perempuan mereka akan memiliki masa depan yang lebih baik dibandingkan mereka. Seperti memiliki pendidkan yang tinggi, tingkat kesejahteraan yang lebih baik dan lain-lain.

Meski peluang mencapai harapan tersebut terbuka lebar, namun kaum perempuan di Indonesia dibayangi sejumlah kekhawatiran terhadap anak perempuan.

“Harapan saya semoga anak saya berhasil jadi anak yang sholihah berbakti kepada kedua orang tua.”

“Harapan saya yang terbaik aja buat anak perempuan saya...mereka bisa jadi apa aja yang mereka inginkan..

“Anak perempuan Saya Fira umur 16 tahun kelas 2 SMA.. Semoga cita-citanya tercapai..”

Itulah antara lain harapan yang disampaikan sejumlah orang tua yang saya temui  terhadap anak perempuan mereka kelak.  Pencapaian harapan itu tidak hanya penting untuk keluarga dan pribadi para orang tua tersebut. Tapi dalam skala besar, sangat penting bagi negara dan bangsa.

Karena berdasarkan sensus Penduduk terakhir tahun 2010 lalu, jumlah penduduk perempuan di Indonesia hampir sebanding dengan jumlah penduduk laki-laki yakni sebanyak 118. 010.413 orang atau sekitar  49,66 persen. Dari jumlah tersebut hampir setengahnya adalah penduduk perempuan berusia antara  0 – 24 tahun.

Namun untuk mencapai harapan tersebut sejumlah orang tua mengaku dibayangi kekhawatiran.

Seperti penuturan Nining Kurnia, ibu dari seorang puteri berkebutuhan khusus, Delina Hijya. Nining berharap anaknya yang berusia 8 tahun bisa menjadi anak yang mandiri. Untuk mencapai harapan itu, Nining berharap bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah inklusi.

“Kalo terapisnya bilang mendingan cari sekolah inklusi jangan di SLB karena Delin ini kan peniru ulung jadi apapun yang temennya lakukan dia pasti meniru,” katanya.

Namun keingingan menyekolahkan Delin tidak mudah karena selain terbatas, sekolah inklusi juga sangat mahal biayanya.

“Kendala sekolah inklusi itu mahal, dan satu tahun mereka cuma menerima dua anak yang lainnya reguler. Saya datangi 4 sekolah. Semua murid masuk daftar tunggu. Daftar sekarang 2-3 tahun ke depan baru saya panggil. Mereka semua bilang begitu...Masak iya Delin harus nunda lagi,tuturnya.

Tidak ada pilihan Nining akhirnya tetap menyekolahkan Delin di SLB sambil mengasah bakatnya berenang.

“Delin berani sekali dengan air, yang penitng kita percaya anak kita bisa.

 

soraya najwa
soraya najwa

Lisa  berharap anaknya Soraya Najwa (10) yang memiliki kebutuhan khusus berupa autisme ringan bisa menjadi anak yang mandiri

Anak perempuan rentan putus sekolah

Sempitnya akses pendidikan sepertinya tidak hanya dialami anak perempuan berkebutuhan khusus seperti Delina, tapi juga anak perempuan lain di Indonesia. Data terakhir dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak tahun 2011 menunjukan, persentase penduduk berusia sekolah yakni 7-17 yang putus sekolah di Indonesia mencapai 2,91 persen.

Dan peluang untuk putus sekolah dikalangan perempuan lebih besar. Data Kementerian Pendidikan tahun 2002  menunjukan dari 10 anak yang putus sekolah di tingkat SD, 6 di antaranya anak perempuan. Sementara di tingkat SLTP 7 banding 3.

Selain itu beban ekonomi juga menjadi sumber kekhawtiran lain di kalangan orang tua terhadap kesempatan pendidikan bagi anak perempuan mereka.

Ibu Siti Kholah di Jakarta Pusat yang sehari-hari membantu suami berjualan makanan kecil di depan rumah mengaku sedikit khawatir impiannya agar anak perempuan semata warangnya, Syifa Audina Afrizal yang umur 17 tahun dapat kuliah tidak kesampaian karena suaminya hanya pegawai kecil. Namun Siti Kholah mengaku terus menyemangai anaknya untuk maju

“Ya harapan saya sih anak saya jadi anak yang pinter dan sekolah yang tinggi dan dapat pendidikan yang lebih baik daripada orang tuanya. Bisa S-1 lah kayak orang-orang  biar  kita orang kecil, anaknya sih kepengin sekolah langsung kuliah ya kata saya doain aja biar ada rejekinya ya anaknya juga doain orang tua juga..begitu aja..”

Korban kejahatan seksual

Sementara itu seorang ibu lain di Jakarta mengaku khawatir dengan berbagai kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak perempuan yang belakangan ramai diungkapkan media. Ibu Aulia yang memiliki dua remaja puteri yang masiih berstatus pelajar di  sekolah lanjutan pertama dan umum kerap menasehati anaknya agar terhindar bahaya pornografi.

“Pengaruh  handphone ya takutnya kalau anak perempuan ..takutnya sekarang  hp canggih dia bisa ngambil video2 mesum porno soalnya kalau udah abg kan hpnya tertutup kita gak boleh liat.” Katanya.

Kekhawatiran Ibu Aulia ini bukan tanpa alasan karena dari tahun ketahun kasus kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat dan mayoritas korbannya adalah anak perempuan berusia 13 -17 tahun. 

Sementara itu angka kekerasan terhadap perempuan pada umumnya juga sama. Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (CATAHU Komnas Perempuan) 2014 mencatat ada hampir 300 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan, angka ini meningkat drastis dari tahun 2001 yang hanya berjumlah 3169 kasus.

Meski banyak dibayangi kekhawatiran namun sebagian orang tua lain sepakat kalau anak perempuan di Indonesia saat ini sudah lebh maju dan sederajat.

“Pastilah atasan saya di kantor aja perempuan, jadi anak perempuan bisa jadi apapun y ang dia mau kalo besar nanti,”

“Saya tidak membeda-bedakan ya anak permpuan harus begini anak laki begitu, Terserah anaknya saja kalau dia minat dan suka silakan aja,”

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.