Kampanye Lintas Negara ala Caleg Indonesia

Kampanye Lintas Negara ala Caleg Indonesia

Kampanye Lintas Negara ala Caleg Indonesia

Diperbaharui 4 April 2014, 15:49 AEST

Di Australia, mungkin tak ada pawai maupun spanduk bergambar para calon legislatif menjelang pemilu 2014 di Indonesia, namun ‘hawa’ kampanye bisa muncul dalam bentuk lain, mulai dari debat di grup WhatsApp hingga selebaran di restoran.

Wilayah Luar Negeri termasuk dalam daerah pilihan (Dapil) DKI II dalam pemilu, bersama dengan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Secara keseluruhan, menurut komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ferry Kurnia Rizkiyansyah terdapat lebih dari dua juta warga Indonesia di luar negeri yang berhak ikut pemilu.Sedangkan khusus jumlah pemilih di Australia sekitar 40.000.

Ulya Jamson, seorang mahasiswa di University of Melbourne, mengaku akhir-akhir ini mulai melihat berbagai dukungan, debat, dan bahkan foto caleg mewarnai kegiatan komunitas Indonesia di kota Melbourne.

Menarik sih, jadi begitu kemarin udah ada pengumuman kampanye terbuka itu udah mulai misalnya di pertemuan-pertemuan…ada yang ngasih leaflet atau pamflet dan itu dari berbagai partai...artinya kita jadi tahu siapa aaja calon-calon yang masuk dapil luar negeri,” ceritanya.

Selain itu, Ulya melihat gambar-gambar para caleg muncul di berbagai restoran, dan debat tentang para caleg dan partai ramai menghiasi grup aplikasi WhatsApp di ponselnya.  

“Misalnya kita temenan tapi persepsi dan pandangan politiknya beda-beda, jadi seru banget kalau di WhatsApp. Misalnya seseorang dari partai ini munculkan isu ini, nanti teman yang lain kasih timbal balik, dan menurutku itu sehat sih,” ucapnya.

'Dilema' Dapil DKI II Bagi Para Caleg

Dari sudut pandang para caleg, mendapat ‘jatah’ dapil luar negeri memiliki keunikan sendiri.

Bahkan, menurut Kastorius Sinaga, caleg dari Partai Demokrat, dapil tersebut menjadi ‘dilema’

“Kalau kita keliling dari satu negara ke negara yang lain waktu nya tak cukup dan juga biayanya cukup mahal,” akunya.

Maka, internet dan khususnya jejaring sosial internet, seperti Facebook, seringkali menjadi jalur yang dimanfaatkan dirinya dan juga para caleg lainnya.

Laman Facebook “Sahabat DR Kastorius Sinaga”, contohnya, saat ini memiliki lebih dari 1.000 “likes”, sedangkan akun twitter Yoga Dirga Cahya, caleg Dapil II dari Partai Amanat Nasional (PAN), memiliki lebih dari 1.517 “followers” dan lebih dari 2.200 “tweet" terhitung 2 April 2014.

Dapil Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Risa Bhinekawati memang bukanlah di luar negeri. Namun, saat mulai melangkah sebagai caleg, Ia sedang menuntut ilmu di Australia.

Maka, untuk menjangkau konstituennya di tanah air meski Ia sedang di Australia, Ia pun memanfaatkan jejaring sosial internet, terutama Facebook dan ‘blog’.

“Saat saya dapat konfirmasi daftar calon tetap, sekitar Agustus  tahun lalu, saya langsung melakukan banyak bikin tulisan karena saya punya blog, website. Jadi aku bikin mulai sosialisasi kenapa saya jadi caleg… Jadi sewaktu masih di Canberra, aku udah melakukan kegiatan melalui social media aja memberitahu teman-teman, saudara khalayak bahwa aku running untuk election,” jelasnya.

Berusaha Dengan Atau Tanpa Bantuan Partai

Cabang partai yang aktif di luar negeri bisa menjadi tumpuan kampanye bagi para caleg.

Contohnya, caleg Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Taufik Ramlan Wijaya, yang wajahnya akhir-akhir ini tampil di beberapa media cetak komunitas Indonesia di Australia.

Menurut Muhammad Arifin, ketua PIP PKS wilayah Australia dan Selandia Baru, iklan-iklan tersebut bertujuan memperkenalkan secara lebih meluas caleg tersebut ke masyarakat Indonesia yang domisilinya cenderung tersebar di Australia.

Organisasi yang Ia sebut “fans club” PKS sudah berdiri sekitar 16 tahun yang lalu. Kegiatannya beragam, mulai dari mengikuti acara bersih-bersih Australia Day hingga tarik tambang dan kompetisi ping-pong.

“Dari kita, menargetkan 3.500 suara dari Australia,” jelas Arifin.

Namun, tak semua caleg bisa bergantung pada partai.

Yoga Dirga Cahya dari PAN mengaku mengandalkan jaringannya sendiri untuk menjangkau para pemilih di luar negeri.

“Saya lebih suka begitu,” jelas caleg berusia 27 tahun yang sudah 10 tahun tinggal di Singapura ini.

Dengan  memanfaatkan jaringan yang Ia bentuk saat menjadi anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia dan Indonesian Professionals Association, Yoga membantuk jaringan yang menjangkau 18 negara, dengan masing-masing memiliki Country Manager.

“Mereka yang melakukan pendataan mana saja kantong-kantong suara yang bisa kita targetkan dan mereka yang menggali aspirasi di negara masing-masing,” jelasnya tentang para Country Manager.

Selain itu, jejaring sosial internet juga Ia manfaatkan, terutama Facebook, untuk menjangkau para tenaga kerja Indonesia (TKI), karena menurut Yoga, para TKI cukup aktif di Facebook.

Ia menargetkan 5.000 suara dari Australia.

Bondan Winarno, caleg dari partai Gerindra, sempat berkunjung ke Australia dalam rangka syuting acara televisi baru-baru ini.

Tokoh yang terkenal di bidang kuliner ini sempat diwawancara sebuah media lokal dan membagikan beberapa bahan kampanye ke kenalan dan beberapa restoran, tapi tak sempat mengadakan temu muka langsung.

Bondan memang sempat berkunjung ke beberapa kantung pemilih di luar negeri, seperti Hong Kong, bahkan sempat berdiskusi hangat dengan mahasiswa dan buruh migran Indonesia di sana.

Namun Ia mengaku lebih mengharapkan suara dari Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, yang merupakan bagian-bagian lain dari Dapil DKI II.

“Memang kalau punya dana, sangat bagus kalau kita datang satu persatu tapi kalau dana terbatas kita punya prioritas lain,” jelasnya.

Keikutsertaan Warga Indonesia di Luar Negeri Rendah

Komisioner KPU, Fery, menjelaskan bahwa keikutsertaan warga Indonesia di luar negeri pada pemilu terbilang rendah.

“Tahun 2009 itu 22 persen dari 1.400.000 pemilih yang ada. Kita berharap pemilu sekarang tingkat partisipasi pemilhnya tinggi…” katanya.

Teknologi memang memungkinkan para caleg dan pemilih berinteraksi dengan berbagai cara yang mungkin sepuluh tahun yang lalu tak mungkin terjadi.

Tak hanya berinteraksi lewat Facebook atau Twitter, mereka bisa juga langsung berkomunikasi secara audio-visual dengan para caron pemilih.

Gerakan peduli pemilu Ayo Vote dan media online Global Indonesian Voices baru-baru ini mengadakan debat caleg melalui dunia maya.

Dengan memanfaatkan teknologi seperti Google Hangouts dan saluran Youtube, para caleg bisa berdebat dan menjawab pertanyaan pemilih.

“Respon calegnya sangat positif,” terang Pangeran Siahaan, yang berperan sebagai moderator debat online tersebut.  

“Memang  perlu pakai effort apalagi kalau mau dari indonesia karena koneksi internet di sini suka engga stabil. Beberapa kali sering terputus dan masalah lain tapi ini jadi sebuah preseden positif untuk ke depannya, memang selalu ada cara untuk sosialisasi.”