Indofest Bagikan Ratusan Angklung di Adelaide

Indofest Bagikan Ratusan Angklung di Adelaide

Indofest Bagikan Ratusan Angklung di Adelaide

Diperbaharui 14 April 2014, 12:20 AEST

Festival Indofest  telah digelar setiap tahunnya sejak 2008 oleh komunitas Indonesia di Australia Selatan. Tahun ini 300 angklung dibagikan gratis kepada para pengunjung hari Minggu (13/4/2014) di Rymill Park, Adelaide.

Festival Indonesia yang menampilkan makanan serta tarian dan kebudayaan Indonesia banyak digelar di sejumlah kota besar di Australia. Tapi ada yang berbeda dengan festival Indonesia yang digelar di Adelaide, Australia Selatan.
 
Indofest digelar tahunan sejak tahun 2008 dan merupakan pagelaran yang tidak hanya melibatkan komunitas warga Indonesia di Australia Selatan.
 
Salah satu penampilan yang ditunggu-tunggu pengunjung adalah penampilan angklung dari kelompok Adelindo Angklung, asuhan Ferry Chandra.
 
Penampilan memukau kelompok angklung ini terlihat dari antusias para hadirin saat mereka beraksi di atas panggung. Mulai dari lagu Garuda Pancasila, Manuk Dadali dari Jawa Barat, hingga You Raise Me Up yang dipopulerkan oleh Josh Groban. “Kita memang selalu tampil di acara ini. Dan setiap tahunnya selalu ada kejutan bagi para pengunjung,” kata Ferry. 

 

Pengunjung Indofest mendapatkan angklung gratis (Foto: Erwin Renaldi)
Benar saja, para hadirin yang menonton angklung diberi masing-masing satu angklung. Mereka diminta memainkan angklungnya sesuai nadanya masing-masing. Usai bermain angklung bersama selesai, angklung pun diberikan secara cuma-cuma sebagai kenang-kenangan. “Ada sekitar 300 angklung yang kita bagikan hari ini, semoga mereka berkesan,” tutup Ferry.
Selain pertunjukkan musik sama seperti bagian dari banyak festival lain, makanan juga menjadi daya tarik utama. Ada sekitar 20 stand makanan yang menawarkan jajanan khas Indonesia. Salah satunya adalah warung yang dibuka oleh Tony Becker.
Dengan menggunakan pakaian polisi, Becker (sebelah kiri), berserta istri dan kakaknya membuka warung nasi dan rujak cingur (Foto: Erwin Renaldi)
“Hari ini saya membuka warung yang menjual nasi kuning, nasi campur khas Bali, dan rujak cingur. Saya memang cinta Indonesia karena budayanya dan orang-orangnya yang baik, ditambah alamnya yang indah,” ujar Becker yang rela membeli gerobak khas makanan pinggir jalan di Indonesia.
Tapi tentu saja tidak hanya masakan dan jajanan Indonesia saja yang disajikan di Indofest. Para pengunjung yang terlihat cukup beragam dari sejumlah etnis pun dihibur dengan kesenian dari berbagai provinsi di Indonesia. Mulai dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, hingga Bali. Pengunjung diajak lebih mengenal kesenian dari Indonesia dengan hiburan angklung, rebana, tari merak, dan masih banyak lagi.
Penampilan Reog dan Ondel-ondel memukai pengunjung yang berebut mengambil foto (Foto: Erwin Renaldi)
INDOfest dianggap sebagai festival Indonesia paling besar di Australia, bahkan di dunia. Hal ini diungkapkan oleh Deane Edgecombe, salah satu pengagas INDOfest.
“Tahun lalu, pengunjung mencapai 20.000 pengunjung, tahun ini diharapkan lebih dari itu. Ini adalah festival Indonesia yang paling sukses di Australia. Alasannya karena merupakan kolaborasi yang melibatkan Kementerian Pariwisata di Indonesia dan dinas terkait di Adelaide,” jelas Dean Edgecombe, yang juga Executive Director Indofest.
Sementara, menurut Vincent Jemadu, Wakil Direktur Promosi Pariwisata Indonesia untuk Wilayah Amerika dan Pasifik dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, festival Indonesia ini adalah yang terbesar di dunia.
“Pertama dilihat dari tingkat kehadiran warga lokal, di negara-negara yang lain biasanya hanya dihadiri oleh orang Indonesia juga,” jelas Vincent.
“Kunci kesuksesannya adalah mereka yang terlibat di sini tidak hanya komunitas Indonesia saja, tapi dibantu oleh komunitas lain dengan mendapat dukungan dari pemerintah lokal,” ungkap Edgecombe.
“Mereka yang terlibat, kebanyakan adalah para sukarelawan yang benar-benar bekerja dengan tulus, tanpa pamrih,” tambah Vincent.
Dan sukarelawan yang tergabung dalam festival ini pun tidak hanya warga Indonesia saja, tapi juga ada mahasiswa dari negara lain. Salah satunya adalah Sorubini Balaguru, dari Malaysia.
“Indofest adalah festival yang cukup besar disini, dan jika saya menjadi sukarelawan, ini akan memberikan nilai tambahan untuk ditulis dalam surat lamaran, bahwa saya pernah punya pengalaman bekerja di komunitas,” ujar Balaguru.
Sorubini Balaguru (Kanan) berserta sukarelawan yang menjadi panitia INDOfest (Foto: Erwin Renaldi)
Festival Indonesia di Adelaide ini pun menarik perhatian Marcela Serqera, mahasiswa dari Kolombia. “Saya tidak pernah tahu tentang Indonesia sebelumnya, tetapi ternyata sangat menarik. Saya suka musik dan makanannya. Pastinya saya akan mengunjungi Indonesia,” kata Serqera.
Marcela Serqera, mahasiswa dari Kolombia yang tertarik dengan Indonesia (Foto: Erwin Renaldi)
“Makanannya enak- enak, orang yang datang pun asyik-asyik,” kata Danny Scardigno yang baru pertama kali ke Indofest. “Saya pernah ke Indonesia, ya makanan Indonesia di Australia cukup mirip.”
Sementara bagi Mala Sjarif, ia berharap kalau Indofest lebih banyak lagi promosinya. “Jadi akan lebih banyak orang yang hadir sehingga bisa lebih memperkenalkan budaya Indonesia,” katanya.

 

Kontributor

Erwin Renaldi

Erwin Renaldi

Produser

Dikenal sebagai presenter, Erwin juga memproduksi sejumlah video untuk website dan TV di Indonesia. Ia bergabung ABC sejak pertengahan tahun 2011.